Kembang Hidup pada Ibadah Jumat Agung GMIST Imanuel Tahuna

  • 04 Apr 2026 07:30 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Jemaat GMIST Imanuel Tahuna melaksanakan ibadah Jumat Agung jumat 3 april 2026, yang ditandai dengan tradisi membawa “kembang hidup” ke gereja. Setiap jemaat yang hadir membawa bunga segar dari rumah masing-masing sebagai simbol kehidupan, harapan, dan iman yang terus bertumbuh di tengah penghayatan akan pengorbanan Yesus Kristus.

Dalam prosesi ibadah, kembang kemudian ditancapkan pada pelepah pisang berbentuk salib, yang menggambarkan perpaduan antara kematian dan kehidupan. Salib sebagai lambang penderitaan Kristus, sementara bunga hidup melambangkan kemenangan kehidupan yang lahir dari pengorbanan Tuhan Yesus.

Warga jemaat saat membawa kembang hidup pada ibadah subuh perayaan Jumat Agung di GMIST Imanuel Tahuna, jumat 3 april 2026

Pendeta Arcely Katamang Ma'i, S.Th mengatakan ditulis dalam kitab 1 Tesalonika 4:13 sebab duka dalam kematian Tuhan adalah membuka pintu keselamatan dan memberi pengharapan. Jadi kembang dibawa sebagai simbol menghargai dan menghormati karya kasih Allah yang paling tinggi.

"Jadi mengajak jemaat untuk memahami bahwa kemenangan itu tidak hanya ketika Tuhan bangkit tetapi sudah dimulai saat Tuhan sendiri mengatakan sudah selesai. Rancangan penyelamatan itu sudah digenapi, bukan tentang Mesias yang datang dalam keagungan tetapi Dia yang datang dalam kerendahan hati, berkorban dan penuh kasih sampai mati." kata Pendeta Arcely Ma'i.

Tradisi ini tidak hanya menjadi ekspresi budaya lokal, tetapi juga sarana refleksi iman bagi jemaat. Setiap bunga yang ditancapkan menjadi representasi doa, ucapan syukur, serta penyerahan diri kepada Tuhan. Momen tersebut berlangsung dengan suasana khidmat, diiringi pujian dan doa yang mengajak jemaat merenungkan makna pengorbanan Kristus.

Befi Humiang warga jemaat GMIST Imanuel Tahuna mengatakan bunga yang dibawah sudah dipersiapkan sehari sebelum pelaksanaan ibadah. Ia juga berharap GMIST Imanuel Tahuna terus menjaga warisan iman ini sekaligus memperkaya cara beribadah yang kontekstual.

"Bunga anggrek dipetik langsung dari halaman rumah. Biasanya sudah dirangkai sejak semalam, kalau mengenai jumlah yang dirangkai itu menyesuaikan dengan anggota keluarga bahkan untuk beberapa teman dan keluarga. Saya berharap membawa bunga di hari Jumat Agung akan terus dilaksanakan di Jemaat Imanuel." kata Befi Humiang.

Kembang hidup yang ditancapkan di wadah dati pelepah pisang yang berbentuk salib

Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa di balik kematian ada kehidupan, dan di balik penderitaan ada harapan yang diberikan oleh Kristus bagi setiap orang yang percaya.

Jumat Agung sendiri merupakan peringatan atas kematian Tuhan Yesus di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Jemaat diajak untuk menghayati kasih Allah yang begitu besar, yang dinyatakan melalui pengorbanan Tuhan Yesus dikayu salib demi keselamatan umat manusia. (Merry)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....