Gurihnya Bisnis Brambang Goreng Zero Waste
- 31 Mei 2026 21:39 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID.,Surakarta - Di sudut sebuah dapur rumahan di Solo, aroma gurih bawang goreng menyeruak bersama sebuah cerita perubahan. Bagi sebagian besar orang, tumpukan kulit bawang merah dan genangan minyak jelantah adalah masalah, seperti limbah bau yang hanya layak berakhir di tempat sampah. Namun, di tangan Saryati, seorang ibu rumah tangga biasa, tumpukan yang awalnya tak bernilai itu justru diputar menjadi ladang uang baru. Melalui merek Brambang Goreng "SW",
ia membuktikan bahwa menjaga kelestarian bumi bisa berjalan selaras dengan melipatgandakan keuntungan lewat konsep zero waste atau bebas sampah. Saryati bercerita bahwa perjalanan mengalirkan pundi-pundi rupiah ini berakar dari sebuah komitmen sederhana untuk membuat makanan sehat.
"Awalnya saya cuma ibu rumah tangga biasa. Awal pertama merintis itu saya coba berkali-kali, gagal terus. Sampah bawang numpuk, minyak juga boros. Biar minyak sisa gorengan gak kebuang lalu dikemas jadi minyak bawang. Kulitnya juga kami keringkan buat dijual di marketplace," ucap Saryati mengenang masa-masa awal rintisannya.
Di dapurnya yang higienis, para pekerja kini wajib memakai masker dan penutup kepala, serta mematuhi aturan ketat bahwa minyak goreng hanya boleh dipakai satu kali saja. Inovasi hijau yang lahir dari dapur sederhana ini perlahan mulai tertata rapi ketika manajemen bisnisnya menyentuh babak baru yang lebih profesional.
Lewat keterlibatannya dalam program inkubasi bisnis pelaku usaha, Saryati mendapatkan bekal penting berupa pelatihan pembukuan keuangan, manajemen operasional, hingga strategi pemasaran. "Di situ kami benar-benar digembleng dari nol. Kami diajari strategi pemasaran yang rapi sampai akhirnya produk SW yang dulu cuma rumahan, sekarang bisa naik kelas dan terpajang di toko-toko retail," tuturnya mengenai titik balik usahanya.
Langkah cerdas Saryati dalam mengolah limbah secara mandiri ini pun menarik perhatian dunia akademik, salah satunya Vania Nashya Febriana. Mahasiswa UIN Surakarta yang pernah meneliti langsung usaha ini mengaku takjub dengan konsep efisiensi yang diterapkan. "Keren sekali ya konsep SW Brambang Goreng ini. Karena bisa zero waste, tidak meninggalkan sampah dan cinta pada lingkungan, dan di satu sisi kulit brambang bisa menguntungkan," ujar Vania saat memberikan pandangannya terhadap inovasi pemanfaatan limbah tersebut.
Bukan cuma soal lingkungan, keberhasilan SW menembus rak-rak toko retail juga dinilai sebagai strategi pemasaran yang sangat cerdas. Bintang, seorang pengamat pemasaran bisnis dari Universitas Sebelas Maret (UNS), melihat ada nilai jual yang unik dan kompetitif dari produk ini di mata konsumen modern. "SW Brambang Goreng inovatif," ucap Bintang singkat, menyoroti bagaimana produk rumahan mampu bersaing lewat narasi ramah lingkungan.
Dampak positif dari efisiensi produksi bebas sampah ini juga mendapat apresiasi tinggi dari Hardianingsih, S.P., M.P., Dosen Sekolah Vokasi UNS Program Studi D3 Agribisnis. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Saryati adalah contoh nyata dari praktik agribisnis yang sangat efisien dari hulu ke hilir.
"Kreatif ya, dan salut sekali. Ini contoh nyata bisnis agribisnis yang efisien dari hulu ke hilir. Ibu Saryati hebat bisa menekan buangan produksi sampai nol persen berkat kreativitasnya. Penggunaan minyak goreng yang sekali pakai itu pun juga sesuai dengan konsep kesehatan. Semoga ke depan makin banyak UMKM kita yang sekreatif ini supaya usahanya makin tangguh," Kata Hardianingsih.
Dari coretan jatuh bangun seorang ibu rumah tangga yang gigih hingga sukses menembus toko modern, SW Brambang Goreng kini telah melebarkan sayapnya tanpa meninggalkan jejak kerusakan pada bumi. Bisnis ini menjadi bukti hidup, bahwa aroma gurih kesuksesan akan terasa jauh lebih nikmat ketika kita tumbuh bersama alam, bukan merusaknya. (Dinar Rusydiana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....