Dari Membuat Sabun, Siswa SMP ABBS Surakarta Belajar Computational Thinking

  • 30 Sep 2026 17:34 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Sebanyak 173 siswa SMP ABBS Surakarta belajar menerapkan computational thinking melalui kegiatan pembuatan sabun cuci tangan dan video iklan pada 29–30 September 2026. Kegiatan Ko-Kurikuler Level 9 bertajuk From Soap to Story: Creating Products, Building Stories tersebut mengajak siswa melatih cara berpikir sistematis melalui aktivitas berbasis proyek.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa computational thinking tidak selalu dilakukan melalui komputer atau coding. Kemampuan memecahkan masalah secara terstruktur dapat dilatih melalui aktivitas sehari-hari dengan memahami tujuan, membagi proses menjadi tahapan, menyusun urutan kerja, memilih informasi penting, dan mengevaluasi hasil.

Pada hari pertama, Selasa 29 September 2026, siswa mengikuti workshop dan praktik pembuatan sabun cuci tangan bersama Choiriyah dari Kelompok Usaha Bersama Bahagia (KUBB) Segar Arum. Siswa mempelajari bahan yang digunakan, proses pembuatan, hingga tahapan pengemasan produk.

Dalam proses tersebut, siswa mengikuti langkah kerja secara bertahap hingga produk selesai. Pola kerja itu memberikan pengalaman untuk memecah pekerjaan yang kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana, yang menjadi salah satu kemampuan dalam computational thinking.

“Tujuan kegiatan ini bukan sekadar membuat sabun. Kami ingin anak-anak mendapatkan pengalaman bagaimana sebuah ide bisa dikembangkan menjadi sebuah produk, dari mulai mengenal bahan, proses produksi, sampai bagaimana produk tersebut bisa dikemas dan dikenalkan kepada orang lain,” kata Ketua Panitia, Lita.

Pada hari kedua, Rabu 30 September 2026, pembelajaran berlanjut dengan pembuatan video iklan sabun sekaligus penyampaian pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan. Siswa menentukan konsep, memilih informasi, membagi tugas, mengambil gambar, hingga menyusun video secara berkelompok.

Tahapan tersebut kembali memberikan ruang bagi siswa untuk menerapkan computational thinking melalui pemilihan informasi dan penyusunan langkah kerja. Siswa juga menentukan cara agar pesan mengenai kebersihan dapat disampaikan dan diterima oleh penonton.

Ketika hasil video belum sesuai dengan konsep awal, siswa memiliki kesempatan untuk mengevaluasi dan memperbaikinya. Proses mencoba, menemukan kekurangan, kemudian melakukan perbaikan menjadi bagian dari pengalaman siswa dalam membangun kebiasaan memecahkan masalah.

“Anak-anak terlihat sangat antusias, terutama ketika masuk ke tahap praktik dan membuat video. Mereka punya banyak ide dan mencoba mengemas pesan tentang kebersihan dengan cara yang kreatif,” ucapnya.

Menurut Lita, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman membuat produk, tetapi juga mengajarkan siswa bagaimana menceritakan dan mempromosikan produk kepada orang lain. Melalui proses tersebut, siswa belajar mengembangkan ide, bekerja sama, menyusun strategi, dan mengevaluasi hasil.

Kegiatan From Soap to Story menjadi contoh pembelajaran berbasis proyek yang memadukan pembuatan produk dengan latihan computational thinking. Siswa belajar mengubah ide menjadi produk, memecah pekerjaan menjadi beberapa tahapan, memilih informasi yang relevan, serta menyampaikan gagasan melalui karya. (SIFA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....