Dinkes Karanganyar Temukan 795 Kasus TBC, Penelusuran Masif Sisir 85 Desa

  • 28 Sep 2026 20:55 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Karanganyar - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar mencatat penemuan sebanyak 795 kasus Tuberkulosis (TBC) sepanjang tahun 2026 hingga akhir September. Lonjakan penemuan kasus ini dipicu oleh langkah agresif pemerintah daerah melalui program Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus secara aktif di puluhan desa.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar, Dwi Rusharyati, membeberkan program ACF menyasar sebanyak 85 desa yang memiliki potensi penyebaran TBC. Penelusuran dilakukan secara intensif dengan menerjunkan fasilitas rontgen mobile langsung ke permukiman warga.

“Nggih, untuk TBC kita di tahun 2026 ini penemuan kasusnya kita sudah 795 kasus yang kita temukan sampai dengan 26 September. Kita melakukan penemuan secara aktif lewat ACF di mana ada 85 desa. Kita sudah menyelesaikan 53 desa dan terkonfirmasi 92 yang positif TBC. Sisanya akan kita selesaikan sampai bulan November,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar, Dwi Rusharyati, Senin 28 September 2026.

Dwi menjelaskan, peningkatan jumlah temuan kasus TBC di Karanganyar bukan menandakan kondisi memburuk, melainkan buah dari pelacakan masif di lapangan. Langkah percepatan ini didukung penuh oleh sinergi lintas sektoral bersama TNI dan Polri melalui jajaran Babinsa serta Bhabinkamtibmas untuk melacak kontak erat maupun kontak serumah dari pasien terkonfirmasi.

Menurutnya, prinsip utama dalam penanganan penyakit menular ini mengacu pada slogan TOS TB, yakni Temukan, Obati Sampai Sembuh. Penemuan kasus sedini mungkin dianggap sangat efektif untuk memutus rantai penularan di tengah masyarakat.

“Prinsip dalam penanganan TBC itu begitu kita temukan tentunya harus ditindaklanjuti dengan pengobatan sampai sembuh, makanya dikenal dengan TOS TB. Dengan penemuan yang tinggi ini justru ada sisi positifnya, artinya kasus segera kita temukan hingga segera kita obati. Dengan demikian rate penularan di tingkat masyarakat bisa kita tekan,” ucap Dwi.

Kendati jumlah kasus yang terdeteksi cukup tinggi, Dinkes Karanganyar mencatat angka keberhasilan pengobatan atau treatment success rate TBC di wilayahnya telah mencapai 88 persen hingga September 2026. Seluruh layanan pemeriksaan hingga obat-obatan TBC disediakan secara gratis oleh pemerintah di setiap puskesmas.

Dwi mengimbau masyarakat untuk menjaga kepatuhan minum obat bagi penderita TBC. Pengobatan TBC yang memakan waktu minimal enam bulan membutuhkan peran Pemantau Minum Obat (PMO) dari pihak keluarga agar pasien tidak berhenti di tengah jalan yang berisiko memicu TBC Resistensi Obat (TB RO).

“Untuk keberhasilan pengobatan kita 88 persen sampai dengan September. Pengobatan yang panjang itu harus diikuti dengan PMO, pemantauan minum obat, sehingga dalam satu keluarga ada yang selalu mengingatkan. Pengobatan yang panjang tanpa kepatuhan, apalagi kalau berhenti di tengah jalan, justru menimbulkan resistensi yang butuh pengobatan lebih panjang dan lebih berisiko,” kata Dwi.

Selain pengobatan medis, Dinkes Karanganyar terus mengedukasi warga mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), etika batuk yang benar, hingga kecukupan ventilasi rumah.

Edukasi ini dinilai penting untuk mengikis stigma negatif masyarakat yang masih menganggap TBC sebagai penyakit kutukan, sekaligus memberikan perlindungan ekstra bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, perokok, dan penderita HIV.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....