EXIT 2026 Arsitektur UMS Hadirkan Karya Tugas Akhir

  • 17 Sep 2026 21:01 WIB
  •  Surakarta

RRI. CO. ID, Surakarta - Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ menggelar EXIT 2026: Architecture of Exhibition dengan mengusung tema “Epilogue, The Journey Shapes Us”.

Pameran tugas akhir mahasiswa ini berlangsung pada 15-17 September 2026 di Hall Auditorium Mohammad Djazman UMS dan terbuka untuk umum secara gratis.

Ketua Panitia EXIT 2026, Gilang Maulana Ardyawan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian pameran tugas akhir mahasiswa Program Studi Arsitektur UMS, khususnya mahasiswa yang lulus pada periode pertama.

“Architecture of Exhibition ini salah satu rangkaian dari pameran tugas akhir teman-teman mahasiswa arsitektur, khususnya yang lulus di periode satu ini,” ujarnya, Kamis, 17 September 2026.

Ia menjelaskan, proses pengerjaan tugas akhir mahasiswa telah berlangsung sejak beberapa bulan sebelumnya. Secara khusus, pengerjaan tugas akhir dilakukan sekitar dua setengah bulan, sedangkan persiapan pameran dilakukan selama satu bulan sebelum pelaksanaan.

Menurut Gilang, pameran tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan proses mahasiswa dalam menghasilkan karya arsitektur. Mahasiswa tidak hanya merancang bangunan, tetapi terlebih dahulu mengangkat berbagai isu yang ada di suatu wilayah.

EXIT 2026: Architecture of Exhibition

“Teman-teman itu mulai berangkat dari isu masing-masing, isu kota masing-masing. Ada yang di Temanggung, Jakarta, Bandung, Solo dan sebagainya. Mereka gali isunya, mereka konsep dan buat tugas akhir ini,” jelasnya.

Melalui pameran tersebut, mahasiswa dari berbagai bidang juga dapat melihat bahwa proses perancangan arsitektur berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu. Selain itu, mahasiswa Prodi Arsitektur juga mempelajari aspek seperti psikologi dan kesehatan untuk mendukung proses perancangan.

“Hingga hari kedua pelaksanaan, pameran telah dikunjungi hampir 300 orang. Pengunjung berasal dari mahasiswa UMS, khususnya mahasiswa Kampus 1 dan mahasiswa kesehatan, mahasiswa Arsitektur UMS, dosen, masyarakat sekitar kampus, serta masyarakat umum,” ungkapnya.

Mengusung tema “Epilogue, The Journey Shapes Us”, EXIT memaknai epilog sebagai sebuah akhir yang belum benar-benar selesai. Perjalanan mahasiswa dalam mengerjakan tugas akhir tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menjadi proses pembentukan diri dan cara berpikir.

Gilang berharap penyelenggaraan pameran berikutnya dapat dipersiapkan dengan waktu yang lebih panjang dan dilaksanakan di ruang yang lebih luas agar karya mahasiswa dapat menjangkau masyarakat yang lebih beragam.

Sementara itu, Koordinator Tugas Akhir Program Studi Arsitektur UMS, Fadhilla Tri Nugrahaini, S.T., M.Sc., mengatakan pameran merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setelah mahasiswa menyelesaikan ujian tugas akhir sebagai bentuk publikasi karya.

“Penyelenggaraan pameran tahun ini merupakan hal yang rutin kita lakukan setelah mereka ujian, kemudian persiapan wisuda. Kami mewajibkan mereka melaksanakan pameran untuk publikasi karya,” ungkapnya.

Fadhilla menyebutkan, terdapat 115 poster dan 36 maket yang dipamerkan. Menurutnya, pameran tersebut dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa baru, mengenai standar produk arsitektur dan kompleksitas proses perancangan.

Ia menjelaskan, dalam merancang sebuah karya, mahasiswa harus terlebih dahulu memahami persoalan yang terdapat pada site atau lokasi. Setelah itu, mahasiswa mempertimbangkan fungsi bangunan serta bagaimana berbagai kebutuhan dapat diakomodasi tanpa mengorbankan fungsi lainnya.

Koordinator Tugas Akhir Program Studi Arsitektur UMS, Fadhilla Tri Nugrahaini, S.T., M.Sc.

“Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam karya mahasiswa adalah healing environment yang berkaitan dengan psikologi. Beberapa karya mengangkat desain pusat rehabilitasi serta pusat pengembangan atau penyembuhan mental,” katanya.

Selain itu, karya mahasiswa juga banyak diarahkan pada pemberdayaan masyarakat. Salah satu contohnya adalah karya mahasiswa bernama Aryan yang merancang pusat edukasi di kawasan Yogyakarta dengan mengangkat isu pegunungan karst.

“Dalam perancangannya, mahasiswa tersebut melihat persoalan kawasan yang gersang dan memiliki keterbatasan dalam menyimpan air. Namun, melalui riset lebih lanjut, kawasan tersebut memiliki potensi penyimpanan air di bagian dalam pegunungan karst. Perancangan kemudian dikembangkan dengan membangun ekosistem yang melibatkan museum dan UMKM masyarakat sekitar,” tambahnya.

Fadhilla menegaskan, karya tugas akhir tersebut tidak selalu berarti akan langsung dibangun di lokasi yang menjadi objek kajian. Hal utama yang didorong adalah kemampuan mahasiswa dalam merespons persoalan di lapangan melalui pendekatan arsitektur.

“Paling gampang menjelaskan pameran ini adalah kita punya satu isu di lapangan, kemudian ada masalah-masalah yang ada di masyarakat, kemudian kita berusaha untuk menyelesaikannya dari sisi arsitektural,” jelasnya.

Sementara itu, Fadhilla berharap mahasiswa Arsitektur UMS terus menghasilkan desain yang lebih atraktif sekaligus mampu menjawab persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat.

“Harapan saya ke depan, desain-desain yang dihasilkan oleh mahasiswa arsitektur UMS itu jauh lebih atraktif lagi, kemudian jauh lebih menyelesaikan masalah-masalah, baik itu masalah yang memang dulu-dulu sudah ada maupun masalah-masalah yang terkini,” pungkasnya. (Edwi/Rill)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....