BPPTKG: Erupsi Anak Krakatau Tidak Tak Pengaruhi Aktivitas Gunung Merapi
- 16 Sep 2026 14:38 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Merapi hingga kini masih berstatus Siaga atau Level Tiga, yang telah ditetapkan sejak November 2020. Meski sejumlah gunung api di Indonesia, termasuk Gunung Anak Krakatau, belakangan mengalami erupsi, kondisi tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas Gunung Merapi.
Kepala BPPTKG Yogyakarta, Dr. Agus Budi Santoso, menjelaskan setiap gunung api memiliki sistem dan dapur magma masing-masing. Sehingga, kemunculan erupsi pada waktu yang berdekatan di sejumlah gunung api merupakan fenomena yang tidak saling berhubungan.
“Ini banyak ditanyakan informasi tersebut. Bahwa ada beberapa gunung yang meletus hampir bersama. Namun dari keilmuan vulkanologi seharusnya memang tidak terkait aktivitas satu gunung api dengan yang lain. Karena masing-masing punya sistem sendiri. Kita menyebut di dapur magma masing masing," ujar Agus Budi Santoso saat dialog interaktif RRI Rabu 16 September 2026.
Sementara itu, erupsi Gunung Anak Krakatau sempat memberikan dampak terhadap aktivitas pariwisata di kawasan lereng Merapi, khususnya wilayah Klaten. Sejumlah objek wisata, seperti Deles Indah dan Kalitalang, sempat terdampak kekhawatiran wisatawan akibat pemberitaan mengenai erupsi gunung api.
Relawan Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Sukiman, mengatakan sebagian wisatawan sempat merasa khawatir untuk berkunjung. Namun, pengelola wisata dan perangkat desa memastikan kawasan wisata lereng Merapi tetap aman untuk dikunjungi, dengan tetap mengikuti arahan keselamatan dan kondisi terkini di lapangan.
Dari sisi aktivitas vulkanik, BPPTKG masih mencatat guguran lava Merapi terjadi cukup intensif, bahkan mencapai ratusan kali dalam sehari. Potensi bahaya yang perlu diwaspadai berupa awan panas guguran dan lontaran material vulkanik dalam radius tiga kilometer dari puncak Merapi.
Meski demikian, kondisi tersebut belum mengganggu aktivitas masyarakat di permukiman lereng Merapi wilayah Klaten. Perangkat Desa Balerante, Jainu, mengatakan warga telah terbiasa menghadapi aktivitas Merapi dan tetap menjalankan kegiatan sehari-hari secara normal.
Karakter erupsi Merapi saat ini juga cenderung bersifat efusif, yakni berlangsung secara perlahan melalui pertumbuhan dan guguran lava. Kondisi ini berbeda dengan erupsi eksplosif besar yang terjadi pada 2010 lalu.
”Jadi untuk aktivitas saat ini ancaman bahayanya bisa dirinci sebagai berikut ya, ada ancaman awan panas dari kuburan kubah Lava. Nah, itu tentu untuk saat ini karena kuba lava ada di Barat daya sejauh 7 km maksimal.Kemudian ke Kali Gendol dari itu awan panas bisa meluncur sampai 5 km. kemudian ada bahaya yang lain yaitu bahaya letusan eksplosif skala kecil,“ ujar Jainu.
Ketenangan warga tersebut tidak lepas dari kesiapsiagaan dan mitigasi bencana yang terus dilakukan pemerintah desa bersama masyarakat. Data kelompok rentan, seperti lansia, balita, dan penyandang disabilitas, telah disiapkan untuk mendukung proses evakuasi apabila sewaktu-waktu diperlukan.
Warga juga telah memahami jalur evakuasi, menyiapkan armada, serta memiliki posko dengan dukungan logistik untuk menghadapi kondisi darurat.
Masyarakat diimbau tidak mudah panik maupun terpengaruh informasi yang belum terverifikasi mengenai aktivitas Merapi. Informasi perkembangan aktivitas gunung api hendaknya merujuk pada sumber resmi BPPTKG dan pemerintah daerah. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....