Kebakaran Lahan Lereng Gunung Merapi di Boyolali Berhasil Dipadamkan Petugas
- 15 Sep 2026 23:20 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Boyolali - Kebakaran lahan yang melanda area lereng Gunung Merapi di perbatasan Desa Samiran dan Desa Suroteleng, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali pada Senin, 14 September 2026, akhirnya berhasil dipadamkan.
Proses penanganan sempat menghadapi kendala medan yang ekstrem sebelum tim gabungan berhasil mengendalikan kobaran api. Kejadian kebakaran ini pertama kali dilaporkan masuk ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali pada Minggu malam.
Api sempat membakar area vegetasi yang berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, menjelaskan bahwa penanganan dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi berbagai pihak setelah api sempat muncul kembali.
"Terkait dengan kejadian kebakaran lahan di wilayah perbatasan Desa Suroteleng dan Desa Samiran, Kecamatan Selo, yang berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, telah dilakukan upaya dari pihak Taman Nasional bersama TNI, Polri, dan masyarakat setempat," kata Ari Wahyu Prabowo saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Selasa, 15 September 2026.
Api sebenarnya sudah sempat dikendalikan, namun muncul kembali pada Senin 14 September 2026, pukul 10.00 WIB, sehingga dilakukan tindakan lanjutan kolaborasi bersama relawan dan BPBD Boyolali.
Ditambahkan Ari Wahyu Prabowo dirinya memastikan api tidak lagi menjalar ke kawasan konservasi maupun pemukiman warga dan mampu dipadamkan. Dirinya juga menjelaskan dari kejadian tersebut, sekitar 1,2 hektar lahan habis terbakar.
"Sekitar kurang lebih jam 07.00 malam pada Senin, 14 September 2026 terpantau bahwa api sudah dapat dikendalikan, tidak menjalar, tidak melebar. Diperkirakan untuk luasan yang terdampak terkait dengan kebakaran ini kurang lebih sekitar 1,2 hektare," katanya menambahkan.
Meskipun api telah padam, pihak BPBD dan petugas terkait tetap melakukan pemantauan di sekitar lokasi guna mengantisipasi munculnya titik api baru akibat sisa-sisa bara kayu yang tertiup angin. Petugas juga mengimbau warga agar tidak lagi melakukan pembakaran sampah atau pembersihan lahan dengan cara dibakar untuk mencegah kejadian serupa.
Sebelum api padam sepenuhnya, penanganan di lapangan berlangsung cukup berat. Medan berupa jurang yang sangat dalam dan curam membuat kendaraan pemadam kebakaran tidak dapat menjangkau titik lokasi.
Petugas gabungan dan warga terpaksa melakukan pemadaman secara manual. Lurah Selo, Eko Dodi Apriyanto mengonfirmasi kesulitan yang dihadapi tim di lapangan terkait lokasi titik api serta keselamatan warga.
"Lokasinya itu di tengah jurang perbatasan Desa Samiran dan Suroteleng. Pemadaman sangat sulit, tidak bisa pakai truk pemadam, jadi warga dan petugas mengupayakan pemadaman manual pakai gebyokan. Kami menyarankan upaya pemadaman tetap memprioritaskan keselamatan jiwa karena jurangnya sangat dalam dan berisiko tinggi jika terpeleset," ucap Lurah Selo, Eko Dodi Apriyanto.
Selain terkendala medan, Lurah Selo, Eko Dodi Apriyanto juga menyampaikan dugaan awal penyebab munculnya titik api sangat berkaitan dengan kebiasaan warga setempat yang membersihkan lahan dengan membakar daun kering. (JK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....