Yayasan Gita Pertiwi Dorong Ketahanan Pangan Melalui Rantai Pasok Berkelanjutan
- 12 Sep 2026 10:12 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Sukoharjo — Direktur Utama Yayasan Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, memaparkan sejumlah inisiatif lembaganya dalam membangun sistem pangan berkelanjutan di Kabupaten Sukoharjo. Pada kesempatan sarasehan Regenerative Agriculture di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo tersebut, Titik menegaskan bahwa Gita Pertiwi, sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang telah berdiri sejak tahun 1991, memiliki komitmen kuat dalam mendukung pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan kelompok rentan.
Menurut Titik, petani menjadi salah satu kelompok sasaran utama mengingat keterbatasan lahan dan teknologi yang mereka hadapi. "Salah satunya adalah petani yang secara aset itu mulai terbatas. Lahannya banyak, tapi teknologinya masih kurang. Kesuburan tanahnya juga menjadi salah satu perhatian," ujar Titik dalam pemaparannya, Sabtu (12/9/2026).
Titik juga mengungkapkan bahwa saat ini Gita Pertiwi sedang menjalin kerja sama dengan Rikolto, sebuah organisasi internasional yang berbasis di Belgia. Kerja sama yang direncanakan berlangsung selama dua tahun ini melibatkan kemitraan Government to Government (G2G) antara pemerintah Belgia dan Indonesia.
"Kerja sama ini adalah kerja sama G2G antar pemerintah. Jadi pemerintahnya pemerintah Belgia dengan pemerintah Indonesia," katanya.
Dalam mengevaluasi program tersebut, beberapa kementerian dan lembaga pemerintah turut terlibat guna memastikan efektivitas pelaksanaannya di tingkat lokal.
Sebagai langkah konkret, Gita Pertiwi fokus pada pengembangan rantai sistem pangan utuh yang mencakup proses budidaya hingga tahap pemasaran. Program ini mendapat dukungan dari Rockefeller Foundation yang bertujuan meninjau efektivitas program makan bergizi gratis, baik bagi para petani maupun pelajar, sekaligus mendorong pergerakan ekonomi lokal.
Terkait pemenuhan bahan pangan, Titik mendorong penggunaan produk dari petani lokal sebagai langkah nyata dalam pemberdayaan ekonomi. "Kalau bicara ekonomi lokal, logikanya harusnya bahan pangan yang dimasak oleh STP (Sekolah Taman Pangan) ya asalnya dari produksi teman-teman tani, tidak membeli dari luar," ucap Titik.
Selain itu, Yayasan Gita Pertiwi juga menginisiasi metode regenerative agriculture (pertanian regeneratif) untuk memastikan suplai pangan sehat ke kantin sekolah, dengan berfokus pada pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis secara bertahap. Melalui metode ini, Titik mencontohkan kesuksesan kelompok tani yang mampu menghasilkan bawang merah berkualitas dengan biaya produksi yang lebih murah.
"Ternyata sekilo bawang merah yang dihasilkan dengan budidaya regenerative agriculture, dibandingkan dengan budidayanya petani, itu bisa menghemat seribu rupiah," ujarnya, sembari berharap program ini dapat diadopsi secara luas demi memperkuat ketahanan pangan di Sukoharjo dan wilayah sekitarnya. (Ase)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....