Tim UMS Terapkan Teknologi IoT untuk Memantau Kualitas Air Pembibitan Ikan Nila

  • 06 Sep 2026 21:13 WIB
  •  Surakarta

RRI. CO.ID, Surakarta - Tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://ums.ac.id menerapkan sistem monitoring kualitas air berbasis Internet of Things (IoT) di Sanjaya Aquatic, Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, pemasangan perangkat pada dua kolam pembibitan ikan nila, dan serah terima teknologi kepada mitra. Program tersebut ditujukan untuk membantu pengelola melakukan pemantauan kondisi air secara lebih praktis, kontinu, dan terdokumentasi.

Program pengabdian ini dipimpin oleh Dr. Ratnasari Nur Rohmah, S.T., M.T., serta melibatkan anggota dosen Mohammad Nasrul Mubin, S.T., M.T.; Rizki Nurilyas Ahmad, S.T., M.T.; Ari Mukti Wibowo, S.T., M.T.; dan Dessy Ade Pratiwi, S.T., M.T. Dalam keterangannya, Ratnasari menyampaikan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada penerapan perangkat, tetapi juga pada peningkatan kemampuan pengguna.

“Program ini tidak berhenti pada pemasangan alat. Tim juga memberikan pelatihan agar mitra memahami cara mengoperasikan perangkat, membaca data, dan melakukan pemeriksaan ketika sistem memberikan notifikasi,” ujar Ratnasari, Minggu 06 September 2026.

Sanjaya Aquatic sendiri merupakan usaha pembibitan ikan nila yang dikelola oleh Muhammad Firdaus Adi Sanjaya dan berlokasi di Gg. Tangkil 3, Tangkil Lama, RT 01/RW 07, Manang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dalam kegiatan pembibitan ikan nila, kualitas air perlu diperhatikan karena perubahan suhu, tingkat keasaman atau pH, kekeruhan, dan ketinggian air dapat memengaruhi kondisi lingkungan pemeliharaan benih.

Ratnasari menerangkan, penggunaan ESP-NOW memungkinkan perangkat sensor berkomunikasi secara lokal tanpa memerlukan koneksi internet pada setiap kolam karena hanya perangkat pusat yang berfungsi sebagai penghubung menuju Telegram. Selain menampilkan hasil pengukuran, sistem menyediakan fitur pemeriksaan status perangkat, pengaturan batas peringatan, notifikasi otomatis, dan kalibrasi sensor. Ketika terdeteksi nilai yang melewati batas yang telah ditentukan, pengelola dapat menerima notifikasi dan segera melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi kolam.

Pelaksanaan kegiatan di Sanjaya Aquatic dilakukan oleh anggota tim pelaksana yang hadir bersama sejumlah mahasiswa UMS. Sosialisasi dan pelatihan yang diikuti enam peserta mencakup pengenalan parameter kualitas air, cara mengakses data kedua kolam melalui Telegram, pemeriksaan status perangkat, pemahaman terhadap notifikasi, serta langkah pemeriksaan ketika ditemukan nilai yang tidak biasa.

Selain para dosen, program ini juga melibatkan perwakilan mahasiswa, Alya Putri Garpi Anggelina. Ia menjadi salah satu perwakilan mahasiswa yang terlibat dalam pengembangan, pengujian, dan penerapan sistem, bersama mahasiswa lain yang turut mendukung pemasangan perangkat, pelatihan pengguna, dan dokumentasi kegiatan.

Setelah sosialisasi dan pelatihan, tim pelaksana memasang perangkat pada dua kolam dan melakukan pengujian untuk memastikan sensor, komunikasi antarnode, serta pengiriman informasi menuju Telegram dapat berfungsi dengan baik. Pengujian awal menunjukkan bahwa sistem mampu menampilkan data dari kedua titik pengamatan dengan suhu air pada kisaran 26,6-27,6 derajat Celsius dan pH pada kisaran 6,93-7,03. Sensor ketinggian air juga mampu mendeteksi perubahan level ketika berlangsung proses pengisian air pada salah satu titik, sedangkan pembacaan yang tidak biasa tetap perlu diverifikasi melalui pemeriksaan langsung dan kalibrasi sensor secara berkala.

Muhammad Firdaus Adi Sanjaya selaku pemilik Sanjaya Aquatic menyampaikan bahwa akses informasi melalui Telegram dapat membantu proses pemantauan dua kolam yang telah dipasangi perangkat. “Sistem ini memudahkan kami melihat kondisi air pada dua kolam melalui Telegram. Informasi yang ditampilkan dapat membantu kami menentukan kapan kondisi kolam perlu diperiksa secara langsung,” kata Muhammad Firdaus Adi Sanjaya.

Sistem tersebut digunakan sebagai alat bantu pengelolaan kolam dan tidak sepenuhnya menggantikan pemeriksaan lapangan, terutama ketika perangkat menampilkan perubahan nilai yang perlu dipastikan secara langsung.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, (10/8/2026) tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan dan Penerapan Teknologi Tepat Guna (P2TTG) Tahun 2026 melalui Deputi Pengabdian Masyarakat dan Hilirisasi, Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS) UMS.

“Setelah perangkat diserahterimakan, mitra diharapkan dapat mengoperasikan dan merawat sistem secara mandiri, melakukan kalibrasi secara berkala, serta memanfaatkan informasi hasil monitoring sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan kolam. Arsitektur multi-node yang digunakan juga berpotensi dikembangkan untuk menjangkau lebih banyak kolam atau direplikasi pada unit pembibitan ikan air tawar lain yang memiliki kebutuhan serupa,” pungkas Ratnasari. (Edwi/Rill)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....