Jejak Solo untuk Dunia, Kearifan Nusantara Hadapi Tantangan Zaman

  • 01 Sep 2026 13:56 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Wali Kota Surakarta Respati Ardi berharap Simposium Budaya Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern tidak berhenti sebagai ruang diskusi. Gagasan yang lahir dari forum tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kolaborasi dan tindakan nyata dalam menghadapi tantangan zaman.

Simposium budaya tersebut digelar di Kota Surakarta, Selasa 1 September 2026, dalam rangka Hari Bhakti Ibu Pertiwi ke-22. Forum tersebut mengangkat kearifan Nusantara sebagai salah satu nilai yang dinilai tetap relevan bagi kehidupan manusia modern.

Respati mengatakan, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga sejarah, tradisi, maupun peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, nilai-nilai budaya perlu terus dihidupkan dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

“Semoga Simposium Budaya ini tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi melahirkan gagasan, kolaborasi, dan tindakan nyata untuk menjadikan kearifan Nusantara sebagai bagian dari solusi menghadapi tantangan zaman,” kata Respati.

Ia mengaitkan kearifan Nusantara dengan semangat Inner Peace, Communal Love, dan Global Harmony. Menurutnya, kedamaian dalam diri dapat menumbuhkan kepedulian kepada sesama hingga membangun harmoni dalam kehidupan bersama.

Gagasan tersebut juga dirangkum melalui semangat One Earth, One Sky, One Humankind atau satu bumi, satu langit, dan satu umat manusia. Pesan itu dinilai penting di tengah masyarakat yang memiliki beragam budaya, bahasa, keyakinan, dan latar belakang.

“Kita boleh berbeda budaya, bahasa, keyakinan, dan latar belakang, tetapi kita hidup di bumi yang sama dan memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Respati menegaskan pelestarian dan pengembangan kebudayaan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah secara sendiri. Kolaborasi diperlukan antara pemerintah, keraton, budayawan, seniman, akademisi, dunia pendidikan, komunitas, generasi muda, dunia usaha, media, dan masyarakat.

“Karena itu, menjaga kebudayaan bukan hanya tugas pemerintah. Kita membutuhkan peran keraton, budayawan, seniman, akademisi, dunia pendidikan, komunitas, generasi muda, dunia usaha, media, dan seluruh masyarakat. Kebudayaan adalah kehidupan kita bersama,” ucapnya.

Pemerintah Kota Surakarta juga mengapresiasi Yayasan Anand Ashram yang menghadirkan ruang dialog mengenai kebudayaan dan masa depan manusia melalui simposium tersebut. Respati turut mengapresiasi kontribusi Anand Krishna dalam memperkenalkan nilai-nilai luhur Nusantara dalam bahasa yang relevan bagi kehidupan manusia modern.

Ke depan, semangat Jejak Solo untuk Dunia diharapkan menjadi perjalanan untuk membawa nilai budaya dari Solo menuju Indonesia dan dunia. Kearifan Nusantara diharapkan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi terus dihidupkan dan dikembangkan sesuai kebutuhan zaman. (Reza)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....