Wali Kota Solo Dorong Kearifan Nusantara Masuk Kurikulum Sekolah

  • 01 Sep 2026 13:51 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Pemerintah Kota Surakarta mendorong nilai-nilai kearifan Nusantara yang berkembang dalam budaya Solo masuk ke dalam pendidikan dasar dan sekolah menengah pertama. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat pendidikan karakter generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kehidupan modern.

Gagasan tersebut disampaikan Wali Kota Surakarta, Respati Ardi dalam Simposium Budaya bertajuk Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern di Surakarta, Selasa 1 September 2026. Simposium tersebut digelar dalam rangka Hari Bhakti Ibu Pertiwi ke-22.

Respati mengatakan, kekayaan budaya Solo tidak hanya berupa sejarah, bangunan, kesenian, maupun peninggalan fisik. Menurutnya, terdapat nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun dan masih relevan untuk diterapkan pada kehidupan modern.

“Warisan budaya tidak cukup hanya kita kenal dan kita banggakan. Nilai-nilainya harus kita hayati dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Respati.

Nilai yang dimaksud antara lain eling lan waspada, tepa selira, gotong royong, dan memayu hayuning bawana. Nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan budaya, tetapi menjadi bagian dari karakter dan perilaku anak-anak.

Menurut Respati, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), membawa peluang sekaligus tantangan bagi kehidupan sosial. Karena itu, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan pembentukan manusia yang memiliki karakter dan kepekaan sosial.

“Solo memiliki kekayaan kearifan yang tercermin dalam eling lan waspada, tepa selira, gotong royong, dan memayu hayuning bawana. Nilai-nilai tersebut tetap relevan, terlebih ketika manusia menghadapi perubahan teknologi, Artificial Intelligence, perubahan sosial, serta berbagai tantangan kehidupan modern,” ucapnya.

Penerapan nilai budaya dalam pendidikan diharapkan tidak sebatas menambah materi hafalan mengenai kebudayaan. Nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Nilai tepa selira, misalnya, dapat diterapkan melalui sikap saling menghargai dan memahami perbedaan. Sementara gotong royong dapat diwujudkan melalui kegiatan yang membangun kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab.

Respati berharap pendidikan berbasis kearifan lokal dapat membentuk generasi muda yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas budaya. Dengan demikian, anak-anak Surakarta diharapkan memiliki kemampuan akademik dan teknologi sekaligus berakar pada nilai budaya Nusantara. (Reza)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....