Solo Didorong Jadi “Center of Knowledge”, Literasi Tak Sekadar Baca Buku

  • 20 Sep 2026 15:09 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pemerintah Kota Surakarta mendorong penguatan budaya literasi melalui berbagai ruang dan aktivitas publik. Literasi tidak hanya diarahkan pada peningkatan minat baca, tetapi juga untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap sejarah, budaya, dan peradaban Kota Solo.

Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengatakan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam Solo Literasi Festival bertema “Jejak Aksara, Membangun Peradaban”, Jumat 18 September 2026. Menurutnya, literasi memiliki makna lebih luas dari sekadar membaca buku atau mengenal aksara.

“Literasi tidak hanya berkaitan dengan buku, huruf, atau kata-kata saja. Tetapi bagaimana satu ruang, satu sejarah, dan dimensi waktu juga menjadi bagian dari bagaimana kita memperkaya literasi,” katanya.

Astrid menilai Solo Literasi Festival menjadi momentum untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, memahami perjalanan peradaban dari masa ke masa. Pemahaman tersebut diharapkan turut membentuk karakter sekaligus mendorong pelestarian budaya secara berkelanjutan.

“Seberapa maju pun kota atau seberapa cepat teknologi berubah, identitas jati diri bangsa tidak pernah hilang dan tidak pernah runtuh,” ucapnya.

Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani menjadi narasumber dalam Solo Literasi Festival bertema “Jejak Aksara, Membangun Peradaban”. (Foto: dok/Humas Pemkot Solo)

Menurut Astrid, penguatan budaya literasi tidak cukup dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah. Ruang publik juga perlu dikembangkan sebagai ekosistem belajar yang menyenangkan dan mudah dijangkau masyarakat.

Pemkot Surakarta menghadirkan sejumlah fasilitas dan program literasi di ruang publik, salah satunya perpustakaan keliling yang hadir setiap pekan di kawasan Car Free Day. Fasilitas literasi juga didorong hadir di pusat perbelanjaan, hotel, dan berbagai fasilitas umum lainnya.

“Tidak hanya di perpustakaan atau di sekolah. Di manapun ada tempat, kita bisa belajar,” katanya.

Lebih lanjut, Astrid menyampaikan gagasan mendorong Solo sebagai center of knowledge atau pusat pengetahuan. Menurutnya, keberadaan museum, perguruan tinggi, dan berbagai ruang edukatif dapat menjadi sumber pembelajaran yang menghubungkan budaya serta sejarah dengan kehidupan sehari-hari.

“Solo ini juga ingin kami dorong sebagai kota yang menjadi pusat referensi atau Solo the center of knowledge. Dengan banyaknya museum dan kampus, bagaimana budaya bisa menjadi bagian dari nilai atau aktivitas kehidupan sehari-hari untuk dijadikan sumber pembelajaran,” kata Astrid.

Dengan konsep tersebut, Solo diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga memberikan pengalaman belajar bagi masyarakat maupun wisatawan. “Sehingga semua datang ke Solo itu tidak hanya untuk wisata, tetapi juga untuk belajar,” ujarnya.

Astrid mengajak masyarakat membangun kebiasaan membaca sejak usia dini, dimulai dari lingkungan keluarga. Ia menyebut berbagai fasilitas edukatif seperti Solo Safari, Solo Technopark, dan museum dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar alternatif untuk memperkuat literasi masyarakat. (Reza)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....