Mahasiswa Arsitektur UMS Raih Medali Perak di China
- 27 Agt 2026 13:01 WIB
- Surakarta
RRI. CO. ID, Surakarta - Inovasi material ramah lingkungan karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali meraih prestasi di kancah internasional. Dua mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik (FT) UMS, Ariz Fantrio Larosa dan Muh Radjabani Umara Qalbian, berhasil meraih Silver Medal atau Medali Perak dalam ajang 12th International Exhibition of Inventions di Guangzhou, China, pada 21-23 Agustus 2026.
Keduanya membawa inovasi berjudul “Kercal: An Innovation in Sustainable Wall Panels Composed of Chicken Feather Biomass and Eggshell Waste”, dengan didampingi dosen pembimbing Suharyani, S.T., M.T. Inovasi tersebut mengolah biomassa bulu ayam dan limbah cangkang telur menjadi panel dinding prefabrikasi sebagai alternatif material konstruksi berkelanjutan.
Apresiasi terhadap inovasi tersebut juga datang dari Dr. Nguyen Hoang Giang, salah satu petinggi RIVA Vietnam. Ia memberikan penghargaan tambahan kepada Ariz dan Radjabani sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan inovasi yang dikembangkan.
“Kercal dikembangkan berangkat dari persoalan limbah organik yang masih belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui inovasi tersebut, bulu ayam dan cangkang telur yang sebelumnya kurang bernilai guna diolah menjadi material arsitektur yang fungsional, estetis, dan lebih ramah lingkungan,” ujar Suharyani, Kamis 27 Agustus 2026.
Menurut Suharyani, pengembangan Kercal juga berangkat dari persoalan lingkungan sekaligus kebutuhan terhadap material arsitektur yang lebih berkelanjutan. Selain memanfaatkan limbah sebagai bahan utama, Kercal dikembangkan sebagai material panel akustik yang memiliki kemampuan menyerap bunyi.

“Kercal dikembangkan sebagai material panel akustik dengan memanfaatkan jaringan serat bulu ayam dan rongga udara internal untuk mendukung mekanisme penyerapan suara. Bentuk permukaan yang bergelombang juga dirancang untuk membantu penyebaran dan difusi gelombang suara,” jelasnya.
Sebagai bagian dari proses pengembangan, tim melakukan pembuatan sampel, pengembangan desain material, hingga pengujian performa akustik. Sampel Kercal kemudian diuji di ERIC Acoustics Lab, Faculty of Engineering, UGM pada 17 Juli 2026 menggunakan standar pengujian ISO 10534-2 dan ASTM E1050-10.
Hasil pengujian menunjukkan Kercal memiliki kemampuan penyerapan suara dengan nilai koefisien absorpsi sebesar 0,408 pada frekuensi 1000 Hz, serta menunjukkan efektivitas penyerapan yang lebih tinggi pada rentang frekuensi 1600–6300 Hz.
Selain pengujian material, tim juga mempersiapkan berbagai kebutuhan kompetisi, mulai dari penyusunan poster, materi presentasi, hingga video inovasi yang menjelaskan konsep, proses produksi, dan keunggulan Kercal. Tim juga melakukan pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bentuk perlindungan terhadap inovasi yang dikembangkan.
Sebelum berkompetisi di China, tim terlebih dahulu mengikuti proses seleksi dan presentasi tingkat universitas melalui ajang INNOPA di UMS. Setelah berhasil melewati seleksi internal dan memperoleh dukungan universitas, tim melakukan finalisasi materi presentasi, persiapan administrasi, serta koordinasi keberangkatan menuju ajang internasional.

Suharyani berharap capaian Kercal dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya inovasi material yang berkelanjutan di lingkungan akademik.
“Melalui mata kuliah Teknologi Material Arsitektur, saya ingin terus mendorong mahasiswa untuk memiliki kepedulian terhadap isu keberlanjutan dengan mengeksplorasi berbagai potensi material alternatif dari limbah organik maupun nonorganik. Pengembangan Kercal menunjukkan bahwa inovasi material arsitektur dapat menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan dan kebutuhan material konstruksi yang lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi material, tetapi mampu berkembang sebagai inovator yang menciptakan produk arsitektur dengan dampak positif bagi masyarakat, industri, dan lingkungan.
“Jangan melihat limbah sebagai sesuatu yang tidak bernilai, tetapi jadikan sebagai peluang untuk menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Semoga prestasi Kercal menjadi motivasi untuk terus berkarya dan menghadirkan solusi material arsitektur yang mampu bersaing di tingkat internasional,” tambahnya.
Sementara itu, Ariz Fantrio Larosa menjelaskan, salah satu keunggulan Kercal terletak pada pemanfaatan limbah lokal menjadi produk arsitektur yang memiliki potensi sebagai material alternatif dalam konstruksi hijau.

“Kompetisi di Guangzhou ini sangat kompetitif karena kami harus bersaing dengan teknologi-teknologi maju dari berbagai belahan dunia. Namun, para juri internasional sangat mengapresiasi Kercal karena dinilai memberikan solusi nyata berbasis ekonomi sirkular bagi permasalahan lingkungan global,” ujar Ariz.
Menurutnya, Kercal juga dikembangkan dengan mempertimbangkan fungsi material, termasuk potensi daya isolasi termal dan akustik. Pemanfaatan limbah sebagai bahan baku tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan dari sektor konstruksi.
Sementara itu, Muh Radjabani Umara Qalbian mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Arsitektur UMS memiliki kemampuan untuk menghasilkan inovasi yang dapat bersaing di tingkat internasional.
Ia berharap Kercal tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan melalui riset dan pengujian lebih lanjut hingga memiliki peluang untuk diterapkan dan dikomersialisasikan dalam industri konstruksi hijau.
“Harapannya, Kercal bisa terus dikembangkan, tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi dapat masuk ke tahap pengembangan dan komersialisasi sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi industri konstruksi dan lingkungan,” ungkap Radjabani. (Edwi/Rill)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....