Tim P2M UMS Gandeng LLHPB PWA Jateng Perkuat Kesiagaan Bencana Bagi Kader Aisyiyah

  • 03 Okt 2026 15:55 WIB
  •  Surakarta

RRI. CO. ID, Surakarta - Seringkali pemahaman tentang penanggulangan dan mitigasi bencana hanya dipahami oleh kaum laki-laki.

Dari kalangan perempuan sangat sedikit mendapatkan ruang untuk belajar ataupun pelatihan.

Maka, hal ini mendorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M) Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS) untuk memberikan ruang khusus bagi kader Aisyiyah se-Jawa Tengah.

Tim P2M UMS berkolaborasi dengan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah mengadakan Training of Trainer (TOT) relawan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Aisyiyah Jawa Tengah. Bertempat di Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMS, pada Sabtu, 03 Oktober 2026.

Tim yang diketuai oleh Koesoemo Ratih, S.Pd., M.Hum., Ph.D., beranggotakan Suni Tuti, S.P., M.A.P., Dra. Muamaroh, Ph.D., Dra. Lilik Tri Prihatini, Dr. Choirun Nisa, M.Pd., Chanyanita Sekar Wijaya, S.KM., M.K.M., dan Dr. Istanto, S.Pd.I., M.Pd berupaya memperkuat pengelolaan kapasitas kader Aisyiyah dalam menghadapi bencana.

Koesoemo Ratih, S.Pd., M.Hum., Ph.D., selaku ketua Tim P2M mengungkapkan alasan menjalin kolaborasi dengan pihak LLHPB PWA Jawa Tengah. Menurutnya, mayoritas dari kalangan kader Aisyiyah yang belum pernah mendapatkan ruang penguatan penanggulangan bencana.

“Hanya lima orang dari 121 peserta yang pernah mengikuti TOT seperti ini, artinya banyak dari kader-kader Aisyiyah yang belum mendapatkan pemahaman secara mendalam. Sehingga ini menjadi sorotan utama bagi kami untuk memberikan kesempatan kepada mereka,” jelasnya.

Ia menilai penguatan kapasitas SPAB ini sangat penting, karena jika terdapat bencana alam yang melanda suatu daerah, tentunya akan terdapat korban lansia dan balita. Keberadaan lansia dan balita menjadi perhatian utama LLHPB Aisyiyah dalam menanggulangi korban bencana alam.

“Meskipun di beberapa titik bencana alam telah ada Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), tidak menutup kesempatan untuk Aisyiyah turut membantu menanggulangi korban bencana, terutama pada sektor dapur umum dan perawatan lansia dan balita,” ujarnya.

Selain itu, Tim P2M UMS dan LLHPB PWA Aisyiyah mendorong kemandirian warga Aisyiyah dalam penanggulangan bencana alam. Terkhusus pada anggota Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) untuk memahami sistem keamanan siaga bencana alam.

“Selain kader-kader Aisyiyah, kami juga ingin memberikan penguatan kepada IGABA agar dapat memahami alur penanggulangan dan pengamanan bencana alam yang barangkali menimpa sekolahnya,” kata Koesoemo.

Koesoemo menilai beberapa sekolah Taman Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) di daerah Jawa tengah cukup banyak yang tergolong rentan terkena bencana. Menurutnya, minimnya pemahaman SOP penanggulangan bencana alam dapat memengaruhi daya nalar siswa dalam memahami instruksi penanggulangan bencana alam.

“Seringkali anak-anak itu disuruh merunduk atau instruksi yang semacamnya, tetapi anak-anak tidak memahami secara mendalam maksud dari instruksi dari gurunya,” tuturnya.

Melalui program P2M yang berkolaborasi dengan LLHPB PWA Jawa Tengah ini, lanjutnya, UMS berkomitmen untuk mendorong penguatan kapasitas kader persyarikatan dalam mengembangkan dan menyebarluaskan gerakan sosial Muhammadiyah dan Aisyiyah (Edwi/Rill)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....