Populasi Ikan Sapu-Sapu 'Meledak' Petani KJA Waduk Kedung Ombo Mengadu ke DPRD Sragen

  • 09 Agt 2026 15:47 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Para petani ikan keramba jaring apung (KJA) dan nelayan tangkap di kawasan Waduk Kedung Ombo (WKO), Desa Gilirejo Lama, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, mengeluhkan maraknya populasi ikan sapu-sapu dalam dua tahun terakhir. Keberadaan spesies yang tergolong invasif ini dinilai sangat meresahkan karena merusak alat tangkap serta menambah beban biaya operasional nelayan.

Guna mencari solusi atas permasalahan tersebut, perwakilan nelayan mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Sragen untuk menyampaikan aspirasi dan menagih komitmen pemerintah daerah dalam mengatasi lonjakan populasi ikan sapu-sapu.

Petani ikan asal Sendangrejo, Desa Gilirejo Lama, Kecamatan Miri, Riyanto, mengungkapkan bahwa munculnya populasi ikan sapu-sapu diduga berasal dari aliran sungai besar di sekitar wilayah tersebut. Kerugian terbesar yang dialami nelayan terletak pada kerusakan jaring tangkap.

"Masalah kerugian itu banyak warga nelayan, Pak. Satu, biasanya nangkap dapatnya ikan, ternyata sapu-sapu. Nah, itu merusak alat jaring. Jaring begitu ketangkap, bukan bisa dilepas, tapi mainnya dipotong. Jadi alatnya rusak dan nambah biaya," ujar Riyanto saat ditemui wartawan di DPRD Sragen.

Riyanto menambahkan, fenomena ini sudah berlangsung kurang lebih selama dua tahun. Mewakili komunitas nelayan di WKO, ia berharap ada perhatian serius serta inovasi teknologi dari Pemerintah Kabupaten Sragen agar keberadaan ikan sapu-sapu tidak sekadar menjadi hama, melainkan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi seperti pakan atau pupuk.

Menanggapi keluhan nelayan WKO, pihak Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Sragen menyatakan bahwa ikan sapu-sapu sebenarnya memiliki potensi besar jika dimanfaatkan secara tepat.

Ketua Tim Perikanan Tangkap Bidang Perikanan DKP3 Sragen, drh. Puri Hidayani, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu dapat diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dengan metode dan pembiayaan yang sangat efisien tanpa perlu membeli alat-alat khusus yang mahal.

"Potensi banget untuk pupuk cair (POC). Bikinnya sederhana, gampang aplikasinya. Ikan sapu-sapu dicacah kecil, lalu kita fermentasikan memakai EM4 dan molase selama tiga minggu. Hasil fermentasinya tidak berbau menyengat melainkan beraroma asam segar. Setelah disaring, pupuk tersebut siap digunakan, misalnya untuk tanaman jagung saat air WKO sedang surut," terang drh. Puri Hidayani.

Meskipun penerapan program ini belum berjalan secara masif di lapangan, DKP3 Sragen berkomitmen untuk terus mensosialisasikan dan mengedukasi para nelayan agar keberadaan ikan sapu-sapu di Kedung Ombo bisa dimaksimalkan untuk menekan biaya produksi pertanian lokal. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....