Fenomena Upwelling Landa WKO, Petani Rela Tak Tidur Siaga Demi Geser Keramba
- 24 Jul 2026 15:53 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN - Fenomena upwelling atau pengadukan air dasar dan permukaan kembali melanda kawasan Waduk Kedung Ombo (WKO). Kondisi yang dipicu peralihan cuaca ini memaksa para pembudidaya ikan keramba jaring apung (KJA) bersiaga penuh demi menyelamatkan ribuan ikan dari ancaman mati mendadak.
Ketua Paguyuban Berkah Mina Boyolayar, Harwito, mengungkapkan ada sekitar 23 pembudidaya keramba di wilayahnya yang terdampak serangan upwelling secara intensif selama empat hari terakhir.
Harwito menjelaskan, meski dampak kerugian akibat kematian ikan bervariasi pada tiap pemilik, pembengkakan biaya operasional untuk upaya penyelamatan tidak dapat dihindari. Para petani terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk bahan bakar atau menyewa kapal guna menggeser posisi keramba ke titik yang lebih aman.
"Boyolayar ada yang tidak kena, ada yang kena sedikit. Tapi kalau ditotal, biaya operasional menyeret keramba pakai kapal sehari bisa sekitar Rp5 juta. Kalau dikalikan empat sampai lima hari, sudah habis Rp20 jutaan untuk biaya mengamankan ikan saja," ujar Harwito saat dihubungi, Jumat 24 Juli 2026.
Mengenai kondisi di pasaran, Harwito menyebutkan harga jual ikan saat ini masih cenderung stabil. Namun, ia memprediksi keterbatasan stok akibat gangguan produksi berpotensi memicu kenaikan harga dalam beberapa hari ke depan.
"Sementara ini karena barang belum langka, harga masih stabil. Tapi kalau sampai 10 hari ke depan stok terus berkurang, kemungkinan besar harga dari petani yang punya pasokan akan naik," ujarnya.
Terkait bangkai ikan yang tidak tertolong, Harwito menjelaskan para pembudidaya memanfaatkan mekanisme ekosistem alami waduk untuk mengurai limbah tersebut. Bangkai ikan dibiarkan menjadi pakan bagi ikan pemakan bangkai di sekitar KJA.
"Bangkai ditaruh di waduk saja, nanti dimakan lele liar atau lele di sekitar keramba. Tiap keramba memang ada lelenya untuk mengurai limbah," kata Harwito.
Secara terpisah, Kapolsek Sumberlawang, AKP Sudarmaji, mengonfirmasi fenomena alam tersebut telah berlangsung dalam kurun waktu dua pekan terakhir. Sebagai langkah mengantisipasi penurunan kualitas air secara drastis, para pemilik keramba siaga 24 jam di lokasi.
"Fenomena ini sudah berlangsung sekitar dua minggu. Pemilik keramba siaga terus di lokasi. Manakala ada cuaca buruk, mereka langsung bersiap menggeser keramba ke titik yang lebih aman," kat AKP Sudarmaji.
Untuk menekan angka kematian, lanjut AKP Sudarmaji, para pembudidaya menerapkan serangkaian tindakan darurat saat ikan mulai menunjukkan gejala kekurangan oksigen. Langkah tersebut meliputi penggeseran keramba menggunakan kapal hingga pengoperasian aerator untuk menyuplai pasokan oksigen tambahan di dalam air. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....