Petugas Damkar dan relawan gabungan berupaya memadamkan api saat terjadi kebakaran kandang ayam di wilayah Mondokan, Sragen baru-baru ini. (Foto: RRI/PSC 119 Sragen)
RRI.CO.ID, SRAGEN — Kasus kebakaran di Kabupaten Sragen mengalami peningkatan signifikan pada musim kemarau tahun ini. Berdasarkan data Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP Kabupaten Sragen, hingga akhir Juli tercatat sebanyak 120 kejadian kebakaran. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada tabel data tahun sebelumnya, total kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Juli baru mencapai 56 kasus (Januari 9, Februari 5, Maret 9, April 4, Mei 4, Juni 6, dan Juli 19).
Sementara pada tahun ini, per 31 Juli saja jumlahnya sudah menembus 120 kasus (Januari 12, Februari 7, Maret 10, April 3, Mei 17, Juni 22, dan Juli 49).Lonjakan tertinggi terjadi pada bulan Juli, di mana terjadi 49 kasus kebakaran dalam satu bulan.
Kepala Bidang (Kabid) Damkar Satpol PP Sragen, Tommy Isharyanto, menyampaikan bahwa tingginya angka penanganan tersebut menempatkan Kabupaten Sragen ke dalam jajaran 10 besar daerah rawan kebakaran di Jawa Tengah.
"Kalau dilihat dari angka kebakaran, Sragen relatif cukup tinggi. Baik kebakaran rumah, lahan, maupun yang lainnya. Kami dari Damkar sendiri hampir setiap hari menangani kejadian," ujar Tommy, Kamis 6 Agustus.
Tommy menjelaskan, pemicu utama maraknya kebakaran di Sragen sejauh ini didominasi oleh kelalaian manusia (human error), baik untuk musibah kebakaran pemukiman maupun lahan modern.
"Penyebab rata-rata human error. Misalnya ditinggal saat menyalakan obat nyamuk bakar hingga mengenai kasur, memasak di dapur yang ditinggalkan, atau membakar sampah tanpa dilokalisir dan pengawasan," katanya.
Petugas Damkar dan TNI melakukan demo menyemprotkan air dari nozle mobil kebakaran saat Apel Kesiapsiagaan Menghadapi Karhutla di Mapolres Sragen.
Selain kelalaian aktivitas pembakaran, potensi kebakaran rumah juga dipicu oleh instalasi listrik yang kurang aman. Banyak warga yang menumpuk colokan listrik berlebihan (stopkontak bersambung) sehingga menimbulkan beban panas tinggi dan memicu korsleting.
Menyikapi tingginya potensi karhutla dan kebakaran pemukiman di musim kemarau ini, Pemkab Sragen bersama instansi terkait terus memperkuat sinergi dan koordinasi.
"Musim kemarau ini perlu ditingkatkan kolaborasi, koordinasi, dan sinkronisasi antara instansi penanggulangan bencana kebakaran seperti BPBD, Damkar, Polres, Kodim, serta para relawan," kata Tommy.
Guna menekan angka kejadian kebakaran yang kian mengkhawatirkan, Bidang Damkar Satpol PP Sragen mengeluarkan sejumlah imbauan penting bagi seluruh warga Sragen, meliputi;
* Aktivitas Memasak: Pastikan tidak meninggalkan kompor atau tungku dalam keadaan menyala saat memasak di dapur.
* Pengelolaan Sampah: Jika membakar sampah, pastikan lokasi dilokalisir dan ditunggu hingga api benar-benar padam.
* Puntung Rokok: Dilarang membuang puntung rokok sembarangan, terutama di dekat kawasan hutan, rumpun bambu, tempat penampungan sampah, atau pemukiman padat.
* Instalasi Listrik: Periksa secara berkala instalasi listrik rumah dan hindari penggunaan stopkontak atau steker yang menumpuk secara berlebihan guna mencegah beban panas memicu arus pendek (korsleting). MI