Sekaten, Tradisi Sakral di tengah Gemerlap Modernitas
- 06 Agt 2026 10:00 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID , Surakarta - Sekaten di Kota Solo hingga kini masih menjadi salah satu magnet wisata yang mampu menarik ribuan pengunjung. Di tengah kemeriahan pasar malam, wahana permainan, kuliner, dan aktivitas UMKM, Sekaten tetap membawa sejarah dan filosofi budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, Maretha Dinar Cahyono, mengatakan pemerintah berupaya menjaga agar kemeriahan Sekaten tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan pengalaman budaya bagi masyarakat dan wisatawan.
Menurutnya, pemerintah berkoordinasi dengan berbagai organisasi perangkat daerah dalam penataan kawasan, kebersihan, keamanan, hingga pendampingan kegiatan selama Sekaten berlangsung. Selain itu, berbagai kegiatan budaya tetap dihadirkan, termasuk penabuhan Gamelan Sekaten saat pembukaan dan penutupan.
“ Menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan datang ke Sekaten khususnya di Solo Raya. Dan kami dalam hal ini pemerintah kota berkoordinasi dengan OPD terkait untuk melaksanakan atau mensukseskan kegiatan gelaran Skaten secara keseluruhan. Baik dari segi penataan kegiatannya, penataan area targetnya, dan kebersihannya, dan juga gelaran serta keamanan, “ ujar Maretha Dinar Cahyono saat dialog interaktif di RRI Rabu 5 Agustus 2026.
Upaya mengenalkan sisi budaya Sekaten juga dilakukan melalui media sosial. Informasi mengenai berbagai kegiatan budaya di Sekaten dipromosikan agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya mengenal Sekaten sebagai pasar malam.
“Selain pasar malam ada tradisinya yang memang belum banyak diketahui oleh para wisatawan dan khususnya anak-anak muda. Kami memberikan promosi terhadap media kami.Kegiatan-kegiatan di Sekaten itu apa saja? Tidak hanya yang di pasar malamnya saja. Tapi kegiatan budayanya yang di Sekaten kami promosikan melalui media sosial kami sehingga masyarakat tahu nih di sana ada kegiatan budaya apa saja pada waktu Sekaten, “ ujar Maretha Dwi Cahyo
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Budaya FIB UNS, Prof. Dr. Bani Suwardi, menjelaskan Sekaten merupakan tradisi turun-temurun yang memiliki sejarah panjang. Dalam tradisi Keraton Mataram, Sekaten berkembang sejak masa Sultan Agung dan berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus sarana dakwah Islam melalui pendekatan seni dan budaya.
Menurut Prof. Bani, nilai penting yang tidak boleh hilang dari Sekaten adalah pesan dan filosofi yang terkandung di balik berbagai tradisinya. Salah satunya adalah konsep harmoni yang tercermin dalam gamelan Sekaten.
Namun, perkembangan zaman membuat wajah Sekaten ikut berubah. Jika dahulu masyarakat datang untuk menikmati gamelan, membeli mainan tradisional, atau berbagai benda yang sarat simbol budaya, kini wahana permainan dan hiburan modern justru menjadi salah satu daya tarik utama.
Prof. Bani menilai perubahan tersebut merupakan hal yang wajar dalam kebudayaan. Tradisi dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat. Persoalannya adalah bagaimana nilai-nilai luhur yang ada di dalam Sekaten tetap diwariskan dan dipahami oleh generasi berikutnya.
Karena itu, kemeriahan pasar malam tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi budaya Sekaten. Hiburan dapat menjadi pintu masuk untuk menarik masyarakat datang, tetapi pengalaman tersebut perlu dilengkapi dengan informasi dan cerita mengenai sejarah serta filosofi Sekaten.
“ Kalau Sekaten sendiri sebenarnya memiliki sejarah yang panjang. Dalam Keraton Mataram Sekaten ini sudah berkembang sejak zaman Sultan Agung. Memunculkan Sekaten atau gamelan ini sebagai bagian dakwah ini secara tertulis ada di dalam serat namanya serat sastra gending dari Sultan Agung. Sultan Agung itu menggambarkan ibadah itu seperti bermain gending dan yang terpenting adalah harmoni itu, “ ujar Prof. Bani
Prof. Bani. Menurutnya, Sekaten merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Solo. Perubahan bentuk penyelenggaraan Sekaten mungkin tidak dapat dihindari, tetapi nilai kehidupan yang luhur, positif, serta memberikan semangat dan harapan harus terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....