APPBI Solo Raya Prihatin PGS Tutup, Berharap Kawasan Tetap Produktif

  • 05 Agt 2026 14:43 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPC Solo Raya prihatin atas penutupan permanen Pusat Grosir Solo (PGS). APPBI berharap kawasan tersebut kembali dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan ekonomi sehingga tetap mendukung kawasan perdagangan dan wisata Kota Surakarta.

Ketua APPBI DPC Solo Raya, Henry Poerwantoro, mengatakan penutupan PGS merupakan persoalan bisnis yang dihadapi pengelola. Dengan berhentinya operasional PGS, jumlah pusat perbelanjaan yang tergabung dalam APPBI DPC Solo Raya berkurang dari delapan menjadi tujuh.

"Kalau mengenai tanggapannya soal penutupan, ya itu murni bisnis. Jadi saya ikut prihatin," katanya, Rabu 5 Agustus 2026.

Menurut Henry, pemanfaatan kawasan PGS setelah proses pelelangan aset selesai menjadi hal yang perlu diperhatikan. Ia berharap lokasi tersebut tetap dikembangkan menjadi kawasan produktif, baik sebagai pusat perbelanjaan maupun bentuk usaha lainnya.

"Semoga nanti PGS setelah tutup permanen, entah itu nanti dibangun mal lagi, entah itu dibangun hotel, intinya tetap menjadi kawasan Segitiga Emas Kota Solo," ujarnya.

Henry menilai keberadaan kegiatan ekonomi di bekas PGS penting karena lokasinya berada di kawasan strategis Kota Surakarta. Kawasan tersebut berdekatan dengan pusat perdagangan dan destinasi wisata yang selama ini menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung.

Ia berharap pemanfaatan kembali kawasan PGS nantinya juga mampu menyerap tenaga kerja dan mendatangkan wisatawan. Aktivitas ekonomi di kawasan tersebut diharapkan turut memberikan manfaat bagi pendapatan daerah, termasuk dari sektor parkir.

"Saya berharap bisa menampung SDM, bisa orang berwisata lagi di kawasan ini. Harapan saya Kota Solo ini harus berkembang wisatanya," ucapnya.

Di sisi lain, Henry mengakui bisnis ritel saat ini menghadapi tantangan akibat melemahnya daya beli masyarakat. Berdasarkan pengamatannya terhadap sejumlah pusat perbelanjaan, keramaian masih lebih banyak terjadi pada akhir pekan dan sektor makanan dan minuman.

"Kalau weekday, Senin sampai Kamis, bahkan Jumat pun, yang ramai selalu area F&B, tempat makan. Untuk toko-tokonya itu biasanya sepi," katanya.

Meski menghadapi kondisi tersebut, Henry meminta tujuh pusat perbelanjaan yang masih menjadi anggota APPBI DPC Solo Raya tetap optimistis. Pengelola pusat perbelanjaan juga didorong terus berinovasi dan mengedepankan kolaborasi untuk menghadapi perubahan perilaku konsumen.

"Saatnya sekarang adalah berkolaborasi, bukan berkompetisi. Karena setiap mal menurut saya itu sudah punya garisnya sendiri, tinggal kita improve saja, selalu memberikan yang terbaik," ujarnya. (Reza)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....