Polemik Polusi Asap Pabrik Gula dengan Kebutuhan Tenaga Kerja

  • 04 Agt 2026 11:55 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Udara bersih dambaan setiap orang karena akan mewujudkan kesehatan. Namun tak dapat dipungkiri pada musim giling tebu dibulan Juli hingga Oktober seperti di Pabrik Gula Mojo Sragen asap pabrik gula mejadi keluhan warga sekitar.

Ketua Tim Pemberitaan LPP RRI Surakarta Agus Yoga pada komentar yang disiarkan pada bulletin Warta Pagi Selasa (4 Agustus 2026) menyebut polusi udara pada pabrik gula asapnya hitam, baunya sangit, dapat menyebabkan batuk dan ISPA. Namun disisi lain pabrik juga meyerap ribuan tenaga kerja. Terus bagaimana solusinya, yang pasti harus jalan bareng seiring sejalan untuk mencari jalan keluar.

Ada sebagian orang tidak mengetahui, apa penyebab asap hitam dari pabrik gula itu Pada pabrik gula terdapat Cerobong Boiler untuk memasak nira yang membutuh uap. Untuk pembakarannya menngunakan ampas tebu/bagasse dan batubara.

Dan jika pembakaran tidak sempurna sempurna akan menimbulkan asap hitam. Kondisi demikian akan menimbulkan abu halus dari pembakaran beterbangan. Selain itu dari proses penguapan nira akan menimbulkan bau tebu terbakar.

Terus upaya apa yang harus dilakukan …

Dari beberapa referensi menerangan, secara teknologi diharapkan pasang Dust Collector, Scrubber dan Electrostatic Precipitator di cerobong. Pemasangan tersebut dapat menangkap abu dan asap.

Selain itu kata Agus Yoga, untuk bahan bakar diharapkan memaksimalkan bagasse 100 persen tanpa batubara. Serta terapkan penanman pohon keras disekeliling pabrik, hal itu sebagai filter alami. Dan terakhir naikan tinggi cerobong miniman 40 meter. Atur angin supaya bawa asap keatas, bukan ke pemukiman.

Jika langkah-langkah tersebut tidak dilakukan tentu akan berdampak terhadap kesehatan, seperti batuk, sesak, mata perih, ISPA bahkan kasus TBC kambuh

Sebagai antisipasi atau pencegahan berpesan, sediakan masker N95.Kalau asap pekat, kegiatan outdoor sebaiknya dipindah ke dalam ruanga. Tutup jendela saat asap turun dan tentu lakukan cek Kesehatan CKG paru.

Jika dikaitkan dengan Sragen dan Solo Raya, Sragen ada PG Sragen, PG Mojo, PG Tasikmadu. Semua masuk wilayah "Segitiga Emas Tebu". Prinsipnya: _Pabrik Berdaya, Warga Sejahtera, Lingkungan Lestari_ hal itu seiring dengan Lentera Pangan.

Gula dari tebu lokal sama halnya ketahanan pangan. Namun jangan sampai "ketahanan perut" mengorbankan ketahanan paru,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....