Petani Desa Batan Diterjang Wereng, Gapoktan Berharap Sinergi Pemda Ditingkatkan

  • 23 Jul 2026 11:14 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali - Serangan hama Wereng Batang Coklat (WBC) yang menerjang persawahan di Desa Batan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, meninggalkan kecemasan mendalam bagi para petani lokal. Kerusakan tanaman padi yang parah membuat ancaman gagal panen menjadi kenyataan dan memicu kerugian finansial yang tidak sedikit bagi warga.

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulyo, Desa Batan mencatat, di area yang mengalami kerusakan paling parah hingga 90 persen, petani hampir Dipastikan tidak bisa memetik hasil panen sama sekali. Biaya operasional pengolahan lahan yang telah dikeluarkan pun dipastikan amblas.

Ketua Gapoktan Tani Mulyo Desa Batan, Mujiyo, mengungkapkan bahwa biaya yang dihabiskan petani dari proses olah lahan, penanaman, hingga perawatan berkisar Rp3 juta per-petak (lahan 2.500 m²). Dengan tingkat kerusakan mencapai 90 persen, nilai kerugian petani membengkak signifikan.

"Kerugiannya hampir mendekati 90 persen. Kalau biaya olah lahan dari tanam sampai perawatan itu sekitar Rp3 juta per petak, berarti kerugian petani sekitar Rp2,7 juta per petak dan hampir tidak ada hasil yang bisa dipetik. Petani hanya bisa mengandalkan sisa-sisa tanaman di bagian pinggir pematang," kata Mujiyo saat ditemui saat melakukan penyemprotan hama wereng pada Rabu, 22 Juli 2026.

Selain itu, kendala anggaran juga sempat membayangi upaya penanganan di lapangan. Subsidi penyemprotan massal (gerdal) dari Pemerintah Desa yang semula ditargetkan untuk lahan seluas sembilan hektar ternyata membengkak hingga 13 hektar akibat meluasnya sebaran hama.

Demi menutupi kekurangan operasional penyemprotan massal menggunakan drone tersebut, para petani terpaksa melakukan swadaya dan urunan mandiri. Menghadapi kondisi yang serba sulit ini, Mujiyo berpesan agar para petani tetap bersabar, bertawakal, dan pantang menyerah dalam mengupayakan pemulihan lahan mereka.

Di samping ikhtiar fisik melalui gerakan pengendalian hama serentak, pendekatan secara spiritual juga terus dihimbau kepada para petani. Di sisi lain, Gapoktan Tani Mulyo menaruh harapan besar kepada instansi terkait agar penanganan masalah pertanian seperti ini bisa diantisipasi lebih dini di masa mendatang.

"Harapan saya dari Gapoktan dan para petani Desa Batan adalah bisa selalu bersinergi dengan pemerintah daerah maupun Dinas Pertanian terkait. Kita harus selalu bekerja sama dan saling berkomunikasi secara intensif, supaya kalau nanti ada ancaman hama lagi, bisa tertangani dengan jauh lebih maksimal," katanya menambahkan. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....