Drone Jadi Solusi Petani Desa Batan Boyolali dalam Membasmi Hama Wereng

  • 23 Jul 2026 11:15 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali - Pemerintah Desa Batan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulyo dan Dinas Pertanian setempat menggelar Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama wereng batang coklat (WBC) secara serentak.

Penanganan yang berlangsung pada Rabu, 22 Juli 2026 ini menggunakan teknologi drone guna menjangkau area persawahan secara efektif dan presisi. Serangan hama yang mulai marak sejak Juni–Juli 2026 ini mengancam produktivitas padi warga. Bahkan di beberapa lokasi, tingkat kerusakan tanaman padi tercatat sangat parah hingga berpotensi memicu gagal panen total.

Kepala Desa Batan, Heru Waluyo, mengungkapkan bahwa serangan wereng kali ini berdampak signifikan pada tanaman yang baru berumur satu bulan maupun yang sudah mulai berisi. Wilayah yang terdampak di Desa Batan mencapai sekitar sembilan hektar.

"Kalau kena hama wereng itu sudah pasti jatuh, pasti gagal panen. Kalau tanaman masih berumur satu bulan, kemungkinan bangkit lagi masih ada, cuma hasilnya tidak bisa maksimal. Bahkan di sebelah barat kantor desa ada sekitar dua patok yang kerusakannya parah, kita menanam sudah tidak ada hasil," kata Heru Waluyo.

Heru menambahkan, dari total lahan yang terdampak, diperkirakan hanya sekitar lima hingga enam hektar yang masih dapat diselamatkan dengan tingkat keberhasilan pemulihan di atas 20 persen. Oleh karena itu, penyemprotan massal menggunakan drone seharga Rp500.000 per-hektar (termasuk obat dan operasional) dilakukan secara serentak.

Langkah ini dinilai jauh lebih efektif dibanding penyemprotan manual yang kerap membuat hama sekadar berpindah lahan.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Tani Mulyo Desa Batan, Mujiyo, menyebutkan bahwa fenomena serangan wereng batang coklat (WBC) ini tidak hanya terjadi di lokasinya, melainkan merata di beberapa daerah seperti Sukoharjo, Sragen, hingga Klaten.

Menurut Mujiyo, meski anggaran subsidi dari Pemerintah Desa awalnya ditargetkan untuk luasan sembilan hektar, kondisi di lapangan menunjukkan jumlah lahan terdampak membengkak hingga mencapai 13 hektar. Kelebihan luasan tersebut akhirnya ditutupi melalui swadaya atau urunan dari para petani.

"Kenyataan di lapangan membengkak ada kurang lebih 13 hektar. Kami antisipasi dengan subsidi dari Pemdes dan urunan dari petani supaya bisa menutup biaya operasional pengedronan. Untuk lahan yang kerusakannya mencapai 90 persen, kerugian petani ditaksir sekitar Rp2,7 juta dari rata-rata biaya olah lahan sebesar Rp3 juta per patok," jelas Mujiyo.

Melalui gerakan pengendalian serentak ini, pihak Pemdes dan Gapoktan berharap sebaran wabah wereng dapat langsung terhenti. Perkembangan kondisi tanaman padi warga akan terus dipantau dan dievaluasi berkala bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Banyudono demi menjaga program ketahanan pangan di wilayah tersebut. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....