Sampah Pangan MBG Berpotensi Jadi Sumber Energi dan Pupuk Organik

  • 13 Jul 2026 15:01 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID : Surakarta - Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang mulai berjalan di berbagai sekolah di Kota Surakarta tidak hanya membawa manfaat bagi pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga memunculkan tantangan baru berupa meningkatnya timbulan sampah setiap hari.

Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta mencatat, potensi sampah dari program MBG berasal dari dua sumber utama, yakni sisa makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa serta limbah dari proses produksi dan distribusi makanan. Sampah tersebut terdiri dari sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, tulang ayam, dan cangkang telur, hingga sampah anorganik berupa kardus, wadah telur, dan kemasan bahan pangan.

Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, Reni Andri Lestari, mengatakan keberadaan program MBG menjadi tantangan tersendiri karena berpotensi menambah volume sampah secara signifikan dan berlangsung setiap hari secara sistematis.

Karena itu, Pemerintah Kota Surakarta mewajibkan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG untuk melakukan pengelolaan sampah dari hulu, mulai dari pemilahan, pengumpulan, hingga pengolahan sampah sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir.

“Terkait dengan MBG ini tentunya secara pelaksanaan dan teknis kita mendasarkan kepada Kepmen LH 2760 tahun 2026 bahwa setiap pelaku usaha yaitu SPPG wajib untuk satu mengelola sampah, kemudian mengelola limbah, kemudian yang ketiga adalah untuk mengolah sisa pangan,” ungkap Reni Andri dalam dialog interaktif di RRI Sabtu )11 Juli 2026)

Langkah tersebut dinilai penting mengingat kapasitas Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo semakin terbatas sehingga pengurangan sampah sejak dari sumber menjadi kebutuhan mendesak.

Sementara itu, Direktur Program Gita Pertiwi, Titik Susanti, mengingatkan bahwa sebagian besar timbulan sampah di Kota Surakarta merupakan sampah organik, termasuk sampah pangan yang berpotensi menghasilkan gas metana apabila langsung dibuang ke TPA tanpa pengolahan.

Menurutnya, sisa makanan dari program MBG justru dapat menjadi sumber daya baru apabila dikelola melalui konsep ekonomi sirkular, seperti diolah menjadi kompos, pakan ternak, maupun budidaya maggot yang dapat mendukung ketahanan pangan perkotaan.

Selain itu, penyusunan menu yang sesuai dengan preferensi siswa juga dinilai penting untuk menekan jumlah makanan yang terbuang setiap harinya.

“ Sampah pangan, sampah organik dari MBG ini menjadi potensi kalau dikelola untuk budi daya magot, untuk kompos, kemudian diolah dengan proses biologis lainnya, ini akan bisa menghasilkan sesuatu yang berpotensi untuk produksi pangan di perkotaan. Misalnya, jadi kompos kan bisa jadi pupuk,” ungkap Titik Susanti.

Pemerintah Kota Surakarta bersama berbagai pihak kini terus mendorong kolaborasi antara pengelola MBG, bank sampah, kelompok tani, hingga komunitas pengolah sampah agar program pemenuhan gizi bagi anak-anak dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Dengan pengelolaan yang tepat, program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak hanya menghasilkan generasi yang sehat, tetapi juga membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab di masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....