Krisis Air Bersih Mulai Terjadi, BPBD Sragen Dropping Air Perdana ke Gesi

  • 03 Jul 2026 18:15 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID,Sragen – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sragen mulai menyalurkan bantuan air bersih (dropping) perdana untuk mengatasi krisis air bersih akibat musim kemarau. Bantuan pertama ini dikirimkan hari ini, Jumat 3 Juli 2026, ke wilayah rawan kekeringan di utara Bengawan Solo.

Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan dan Logistik BPBD Sragen, Ahmad Subekti mengungkapkan bahwa wilayah yang menerima penyaluran air bersih perdana tersebut berada di Kecamatan Gesi.

"Ini baru berangkat. Kita kirim armada satu tangki perdana mulai hari ini," ujar Ahmad saat dikonfirmasi, Jumat 3 Juli 2026.

Bantuan satu tangki air bersih tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan warga di RT 5 Dukuh Krengseng, Desa Poleng, Kecamatan Gesi. Berdasarkan data lapangan, dampak kekeringan di lingkungan RT tersebut mencakup 65 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 218 jiwa.

Ahmad menjelaskan, pengiriman air bersih ke Desa Poleng merupakan satu-satunya permohonan resmi yang masuk dan langsung ditindaklanjuti. Sementara itu, untuk beberapa titik lain yang dilaporkan mulai mengalami kelangkaan air, BPBD Sragen meminta pihak desa segera mengirimkan surat permohonan resmi guna tertib administrasi.

Masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih diharapkan mengikuti mekanisme pengajuan yang telah ditentukan. Yakni pihak desa mengajukan surat permohonan resmi bantuan air bersih. "Surat tersebut harus diketahui oleh pihak kecamatan setempat."

Surat dikirimkan secara resmi ke kantor BPBD Sragen. Setelah surat diterima, tim BPBD akan diterjunkan untuk melakukan cek lokasi dan asesmen.

"Kita cek dulu, asesmen nanti kira-kira betul-betul sudah membutuhkan apa belum. Termasuk melihat kesiapan alat-alat di sana."

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Sragen telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan melalui Keputusan Bupati Sragen Nomor 300.2.1/139/01.3/2026 yang ditandatangani oleh Bupati Sragen, Sigit Pamungkas. Berdasarkan pemetaan BPBD, terdapat 9 kecamatan yang mencakup 34 desa dan 135 dukuh yang masuk dalam zona rawan krisis air bersih.

Kecamatan Gesi, bersama dengan wilayah lain seperti Tangen, Sumberlawang, Mondokan, Sukodono, Jenar, Miri, Masaran, dan Tanon, menjadi fokus perhatian utama mitigasi bencana tahun ini lantaran kondisi geografisnya yang rentan setiap kali musim kemarau tiba.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, Danang Hermawan, menyampaikan bahwa status siaga darurat ini berlaku selama dua bulan, terhitung mulai tanggal 1 Mei hingga 30 Juni 2026. Langkah cepat ini diambil sebagai bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah berdasarkan prediksi BMKG bahwa awal musim kemarau di Sragen dimulai pada Mei 2026.

"Untuk saat ini kami sudah menetapkan SK Siaga Darurat yang ditandatangani Bapak Bupati untuk bulan Mei dan Juni ini. Jika nanti di bulan Juli kekeringan masih berlanjut, status siaga darurat akan diperpanjang. Namun, apabila sudah memasuki puncak kemarau (sekitar Juli-Agustus) dan kondisinya kian kritis, statusnya akan kita alihkan menjadi Tanggap Darurat Kekeringan melalui SK Bupati," ujar Danang saat dikonfirmasi Jumat 12 Juni 2026. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....