Kacab PSHT Sragen: Suro Bukan Sekadar Pergantian Kalender, Saatnya Introspeksi

  • 16 Jun 2026 18:36 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sragen - Muharram merupakan salah satu bulan yang istimewa dalam hitungan kalender Islam. Bulan yang juga disebut sebagai bulan suro berasal dari bahasa Arab yakni Asyura, bulan yang diutamakan dan dimuliakan.

Terlepas dari realitas empirik dan simbolik yang melekat pada bulan itu, karena Muharam sarat dengan berbagai peristiwa sejarah baik kenabian maupun kerasulan.

Ada berbagai peristiwa penting Islam yang terjadi di bulan muharram seperti Nabi Adam AS diterima taubatnya, Nabi Isa AS memperoleh anugerah kitab Taurat ketika berada di bukit Tursina (Sinai). Nabi Nuh AS terlindungi dari bahaya banjir bersama umatnya yang patuh. Nabi Ibrahim AS terhindar dari bahaya api dan fitnah raja Namrud dan seterusnya.

Namun bagi masyarakat Jawa dan perguruan pencak silat, bulan Suro atau 1 Muharam bukan sekadar pergantian kalender. Momentum ini merupakan waktu yang disakralkan dan menjadi tradisi turun-temurun seperti yang dilakukan organisasi berdiri Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT).

Ketua PSHT Cabang Sragen, Suwanto, menjelaskan bahwa bulan Suro dipilih karena sarat akan nilai spiritual dan historis. Menurutnya, bulan ini merupakan simbol kesakralan di mana banyak peristiwa besar di dunia diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Suwanto mengatakan secara ketentuan organisasi, pengesahan di luar bulan Suro sebenarnya dimungkinkan. Namun, nilai tradisi yang kuat membuat momentum ini tidak tergantikan.

"Secara ketentuan dimungkinkan boleh (di luar bulan Suro), tapi selama ini kami melihat itu sebagai tradisi sejak PSHT lahir 1922 sampai sekarang. Secara sesepuh ya boleh-boleh saja, tapi kami lebih memaknai bulan Suro sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas peristiwa-peristiwa besar yang diturunkan di bumi ini," ujar Suwanto, Senin 15 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa momentum ini juga menjadi sarana yang tepat untuk melahirkan adik-adik warga baru agar mereka memulai langkahnya dengan fondasi spiritual yang kuat. Di tengah sorotan publik terkait potensi gesekan antar-pesilat, PSHT Cabang Sragen menekankan pentingnya refleksi diri untuk meredam arogansi.

Bulan Suro dimanfaatkan sebagai momen introspeksi nasional dan personal bagi setiap anggota, yang diistilahkan dengan mesu diri atau penenangan diri.

Dalam merefleksikan diri, terdapat beberapa poin utama yang ditekankan oleh PSHT Cabang Sragen, mengevaluasi tindakan selama satu tahun ke belakang, apakah energi yang dipancarkan ke masyarakat lebih banyak yang positif atau negatif. Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui sikap dan perilaku (trap laku) yang diajarkan dalam organisasi. Mengadakan doa bersama di Padepokan PSHT Cabang Sragen pada malam satu Suro.

Lebih lanjut, Suwanto menjelaskan bahwa pada malam tirakatan, seluruh anggota akan fokus memohon pengampunan, mendoakan para leluhur pendiri perguruan, serta memanjatkan doa agar PSHT di seluruh dunia tetap solid dan bersatu.

Tujuan akhirnya adalah agar setiap anggota mampu mengimplementasikan falsafah Memayu Hayuning Bawono —yakni ikut serta memperindah dan menjaga kedamaian dunia—yang dimulai dari mengenali diri sendiri.

"Harapan besar kita adalah PSHT Cabang Sragen dan PSHT seluruh dunia ini kembali satu, mewujudkan cita-cita luhur para leluhur kita. Ketika kita bisa mengenal diri kita, insyaallah akan lebih mudah kita mengenal alam semesta ini, khususnya menjaga kedamaian dalam kehidupan keseharian," kata dia. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....