TPA Troketon Klaten Diambang Overload, Pengelolaan Sampah Harus Berubah

  • 10 Jun 2026 15:56 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, KLATEN – Persoalan sampah di Kabupaten Klaten kian mendesak dan memasuki fase kritis. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Troketon diperkirakan hanya mampu menampung kiriman sampah hingga dua tahun ke depan jika pola konsumsi dan pembuangan masyarakat tidak segera berubah. Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Klaten mendesak masyarakat untuk mulai mengelola sampah sejak dari tingkat rumah tangga.

Ketua Pokja Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Klaten, Cintatmi Tyas Sari, menegaskan bahwa krisis sampah ini bukan lagi sekadar masalah lokal, melainkan sudah menjadi isu nasional yang memerlukan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Menurut Cintatmi, tantangan terbesar saat ini berada di sektor hulu. Rendahnya kesadaran warga untuk memilah antara sampah organik dan anorganik dari rumah membuat TPA kebanjiran material yang sebenarnya masih bernilai guna.

"Saat ini, TPA Troketon diperkirakan hanya memiliki usia pakai sekitar dua tahun apabila pola pengelolaan sampah tidak berubah,” kata Cintatmi dalam dialog interaktif di RRI, Selasa 9 Juni 2026.

Sebagai langkah antisipasi, DLH Klaten gencar melakukan sosialisasi melalui fasilitator lapangan, komunitas peduli lingkungan, hingga pemanfaatan media sosial demi mengedukasi warga tentang urgensi memilah sampah.

Senada dengan DLH, Ketua Bank Sampah Induk Klaten, Muhammad Agus Mustawa, menilai faktor paling menentukan dalam menyelesaikan sengkarut sampah ini adalah perubahan perilaku masyarakat sendiri.

“Masih banyak warga yang menganggap urusan sampah selesai setelah membayar iuran pengangkutan, tanpa memikirkan proses pemilahan maupun pengolahan lanjutan,” ucap Agus.

Padahal, jika dikelola dengan bijak, sampah memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Sampah anorganik yang dipilah secara mendetail dapat dijual kembali ke bank sampah, sementara sampah organik bisa disulap menjadi kompos maupun pupuk cair yang bermanfaat bagi pertanian warga.

Upaya nyata sebenarnya sudah diperlihatkan oleh Kelurahan Gergunung. Sejak tahun 2008, kelurahan ini telah konsisten mengelola sampah melalui tempat pengolahan sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) dan bank sampah.

Setiap harinya, sekitar 1,5 ton sampah berhasil dipilah di sana. Kendati demikian, mereka mengaku masih kerap terkendala oleh sampah residu yang sulit didaur ulang, seperti popok sekali pakai dan plastik yang tercampur.

Untuk mengatasi kebuntuan di tingkat hilir dan memperpanjang napas TPA Troketon, Pemerintah Kabupaten Klaten kini tidak tinggal diam. Pemkab tengah mengkaji penerapan teknologi pengolahan sampah modern bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Teknologi ini diharapkan mampu mereduksi volume sampah yang ditimbun secara signifikan.

Krisis di TPA Troketon menjadi alarm keras bagi seluruh warga Klaten. Pengelolaan sampah bukanlah tugas tunggal pemerintah. Langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah, menekan penggunaan plastik sekali pakai, dan aktif menyetor ke bank sampah kini menjadi kewajiban bersama demi menyelamatkan lingkungan Klaten di masa depan. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....