Sampah Merupakan Cerminan Perilaku Manusia

  • 09 Jun 2026 14:25 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta : Ada sebagian yang mengatakan, sampah merupakan barang yang tidak berguna yang akhirnya dibuang. Bahkan jika cara pembuangannya tidak dikelola dengan baik tentu akan berdampak serius kepada kehidupan lingkungan sekitar.

Komentar pagi ini Selasa (9 Juni 2026) menyoroti terkait Klaten Darurat Sampah, sehingga berpandangan sampah merupakan cerminan perilaku manusia. Bahkan jika sampah diperlakukan atau dikelola dengan semestinya pasti bermanfaat bagi kehidupan kita semua.

Kata editor rri.co.id Agus Yoga, memang tidak semudah diucap mengelola sampah, seperti Klaten dengan Darurat Sampah, karena TPA Troketon Jatinom Klaten overload, dengan kapasitas harian mencapai 100 ton.

Irionisnya sampah yang masuk 130-150 ton/hari, tentu kondisi TPA tak mampu nampung hingga menimbulkan tumpukan membumbung dan rawan longsor. Diperparah lagi TPA Banjarejo tutup sebagian hingga terjadi longsor sampah 2024 lalu membuat zona aktif menyempit.

“Dampaknya sampah liar bermunculan di pinggir jalan Tegalgondo, bantaran Kali Dengkeng, hingga alternatifnya Bayat-Trucuk mejadi TPS illegal,” ungkapnya.

Sebenarnya apa yang menjadi akar masasalahnya, yang jelas volume sampah yang hingga naik terus 1.300 m³/hari dari 401 desa. Dipeburuk dengan budaya sekali pakai dan sampah pasar dominan organik.

Diperburuk lagi, Dinas Lingkungan Hidup Klaten hanya mepunyai 30-an truk pengangkut sampah untuk 26 kecamatan. Serta kesadaran pilah sampah yang masih rendah.

Jika kondisi pengelolaan sampah itu uterus berjalan kurang baik tentu akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat mulai dari ISPA dan diare. Termasuk lingkunganpun juga terdampak seperti Lindi bisa merembes ke sawah.

Menyikapi kondisi demikian Pemkab dan Dinas Lingkungan Hidup setempat telah menerapkan Darurat sampah. Status darurat sampah ditetapkan Bupati sejak Mei 2026 untuk percepatan anggaran.

Selain itu sebagai perluasan TPA, pemerintah setempat membuka TPA baru di Karangnongko dengan target dapat berfungsi tahun 2027.

Ironisnya upaya tersebut masih memenemuai beberapa kendala seperti pembebasan lahan masih alot.

Termasuk TPST (tempat pengeloaan sampah terpadu) 3R (kurangi, pakai ulang, daur ulang) 20 desa sudah mepunyai, namun baru 5 yang jalan optimal. Sisanya alat mangkrak.

Dengan berbagai upaya, semoga langkah yang ditempuh pemerintah bersama stake holder terkait dan masyarakat semoga Program "Klaten Resik" dapat terwujud,” berharap.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....