Waspada Cuaca Ekstrem Pancaroba, Kemarau Diprediksi Mulai Mei
- 16 Apr 2026 20:09 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Semarang – Perubahan cuaca drastis dari panas terik di pagi hari menjadi hujan lebat pada sore hari sedang melanda berbagai wilayah.Kondisi fluktuatif ini merupakan ciri khas masa peralihan musim atau pancaroba.
Masyarakat diminta untuk tidak lengah menghadapi potensi cuaca ekstrem . Mengingat kondisi ini diprediksi masih akan terus berlangsung selama bulan ini.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menginformasi fenomena tersebut disebabkan oleh tingginya tingkat konvektivitas udara.
Proses pemanasan yang kuat di pagi hari memicu pertumbuhan awan secara masif menjelang sore hingga awal malam. Akibatnya, pelepasan energi berupa hujan deras kerap tidak terhindarkan.
"Dari pancaroba ini yang perlu diwaspadai adalah ketika beberapa hari tidak hujan. Awan yang terbentuk itu cukup besar, sehingga petirnya menjadi lebih besar, hujannya juga bisa sampai lebat yang disertai angin," ujar Giyarto kepada rri.co.id, Kamis, 16 April 2026.
Fenomena awan konvektif raksasa tersebut membawa ancaman bencana hidrometeorologi. Seperti banjir bandang, angin puting beliung, hingga fenomena hujan es.
BMKG memberikan peringatan kewaspadaan khusus bagi masyarakat yang bermukim di daerah hulu sungai, dataran rendah, dan kawasan cekungan. Selain itu, wilayah dengan sistem irigasi atau drainase yang buruk juga masuk dalam zona paling rawan terdampak genangan air.
Terkait durasi masa peralihan ini, BMKG memprediksi wilayah Semarang dan sekitarnya masih akan berada dalam bayang-bayang cuaca pancaroba hingga akhir April.
Namun, seiring berjalannya waktu, kelembapan udara akan berangsur menurun digantikan oleh sirkulasi udara yang jauh lebih kering. Transisi nyata menuju musim kemarau diproyeksikan akan terjadi pada bulan depan.
"Mulai memasuki awal Mei itu sudah mulai meninggalkan pancaroba dan memasuki musim kemarau. Menginjak bulan Mei udara akan menjadi lebih kering dan potensi hujan makin berkurang, dengan puncak musim kemaraunya pada Agustus," kata Giyarto.
Menghadapi potensi cuaca yang tidak menentu ini, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG guna melakukan langkah antisipasi.
Langkah mitigasi mandiri di lingkungan sekitar, seperti membersihkan saluran air dan memeriksa pepohonan yang rapuh, perlu segera digalakkan. Kewaspadaan ekstra menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak kerugian di masa peralihan. (Dania/W)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....