Pancasila Tetap Relevan di Tengah Arus Globalisasi

  • 01 Jun 2026 15:36 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID Surakarta - Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini hadir di tengah berbagai tantangan zaman. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat membuka ruang luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat.

Namun di sisi lain juga memunculkan ancaman berupa polarisasi, ujaran kebencian, hingga menurunnya sikap saling menghormati.

Dosen dan Kepala Program Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, Dr. Ayub Torry Satriyo Kusumo, menilai Pancasila masih sangat relevan menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila mampu menjadi filter dalam menyikapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas kebangsaan.

Ia menjelaskan, kemajuan teknologi dan globalisasi tidak perlu ditolak. Namun masyarakat harus mampu memilah informasi, perilaku, maupun budaya yang masuk agar tetap selaras dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.

"Menurut saya masih relevan. Jadi bahasa di dalam Pancasila itu sangat indah sekali . Pancasila itu sebagai sebuah rangkaian puisi, . Ketuhanan Yang Maha Esa, jadi tidak menunjukkan atau tidak menonjolkan salah satu agama-agama yang ada di Indonesia, tetapi merangkul semua. Yang penting kita harus yakin dan percaya adanya ketuhanan, adanya ajaran Tuhan," kata Ayub Torry saat menjadi narasumber dialog interaktif di RRI Senin 1 Juni 2026.

Perbedaan pendapat yang semakin sering muncul, terutama dalam momentum politik, juga dinilai sebagai tantangan tersendiri. Meski demikian, perbedaan bukanlah ancaman selama masyarakat tetap menjunjung tinggi Persatuan Indonesia dan tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk merendahkan pihak lain.

Menurut Ayub, demokrasi memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk memiliki pandangan berbeda. Namun kebebasan tersebut harus disertai tanggung jawab, etika, dan penghormatan terhadap sesama. Kritik diperbolehkan, tetapi tidak boleh berubah menjadi hinaan maupun ujaran yang memecah belah persatuan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa implementasi Pancasila tidak selalu diwujudkan melalui hal-hal besar. Nilai-nilai Pancasila dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menyapa tetangga, membantu sesama, menjaga lisan, menghormati perbedaan, hingga menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, Pancasila bukan sekadar hafalan atau simbol kenegaraan. Pancasila merupakan pedoman moral yang menjaga masyarakat Indonesia agar tetap berakar pada jati dirinya sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia.

Momentum Hari Lahir Pancasila tahun 2026 menjadi ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata, sehingga perbedaan menjadi kekuatan, bukan perpecahan, dan kemajuan zaman tetap berjalan seiring dengan terjaganya persatuan Indonesia. Lidia

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....