Gempuran Gadget Jadi Tantangan Berat Terapkan Pancasila di Solo

  • 01 Jun 2026 13:35 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Penanaman nilai-nilai Pancasila pada instansi pendidikan di Kota Surakarta dinilai menghadapi tantangan yang sangat berat seiring dinamisnya perkembangan zaman. Degradasi moral dan melemahnya semangat kerja keras pada anak didik dipicu oleh dampak penggunaan gawai yang terlalu bebas.

Kondisi memprihatinkan tersebut dikonfirmasi oleh Ketua Komisi IV DPRD Kota Surakarta, Sugeng Riyanto, saat diwawancarai RRI pada Minggu, 31 Mei 2026. Menurutnya, penetrasi teknologi informasi saat ini telah menyeruak sangat dalam hingga mengubah perilaku harian anak-anak.

Sugeng memaparkan bahwa paparan media digital yang tidak terkontrol memicu munculnya budaya instan yang merusak mentalitas pelajar. Jika dibiarkan, fenomena ini dikhawatirkan akan terus merongrong sendi-sendi akhlak dan moralitas generasi penerus bangsa di Kota Solo.

"Dampak dari gadget misalnya yang masuk menyeruak begitu dalam ya dalam kehidupan anak-anak kita, ada sisi-sisi melemahnya semangat kerja keras kemudian sisi-sisi menguatnya budaya instan gitu," ujar Sugeng Riyanto.

Sebagai langkah antisipasi, Sugeng menawarkan pendekatan keteladanan lingkungan dan struktural kurikulum sekolah yang harus dipadukan. Langkah ini menuntut komitmen bersama agar orang tua, guru, dan masyarakat dapat bahu-membahu menjadi contoh nyata bagi anak-anak.

Sementara itu, urgensi pemaknaan Hari Lahir Pancasila juga disuarakan secara lantang oleh kalangan akademisi dari Kampus Kentingan Surakarta. Mahasiswa Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, Kenar Rasendriya menilai, Pancasila harus diimplementasikan secara adaptif oleh anak muda.

Kenar menegaskan bahwa pengamalan Pancasila di era modern dapat diwujudkan melalui adab bermedia sosial yang sehat serta aksi kolaborasi nyata. Dirinya menolak jika ideologi negara hanya dijadikan instrumen hafalan yang kaku tanpa ada pergerakan konkret di masyarakat.

"Di tengah gempuran modernisasi, Pancasila tidak boleh mandek sebagai teks hafalan yang kaku, melainkan harus bertransformasi menjadi kompas moral dan etika anak muda," tutur Kenar Rasendriya.

Mahasiswa UNS ini optimis bahwa penguasaan teknologi tingkat global tidak akan mengikis rasa nasionalisme para pemuda. Melalui momentum refleksi ini, ia mengajak seluruh generasi muda di Surakarta untuk membuktikan bahwa Pancasila akan tetap menyala menantang zaman. (Ryan Assyidiqi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....