Luar Biasa! Warga Desa Pengkok Sragen Sembelih 178 Sapi dan 163 Kambing

  • 27 Mei 2026 14:11 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN – Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, kembali mengukuhkan posisinya sebagai wilayah dengan jumlah penyembelihan hewan kurban terbanyak di Kabupaten Sragen pada Hari Raya Iduladha 1447 H / 2026 M. Kesadaran religius serta etos kerja yang tinggi membuat jumlah hewan kurban di desa ini terus meroket dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data yang dihimpun, pada tahun 2026 ini total hewan kurban di Desa Pengkok mencapai 178 ekor sapi dan 163 ekor kambing. Angka ini mengalami kenaikan yang sangat signifikan dibandingkan dengan tahun 2025 lalu, di mana jumlah kurban tercatat sebanyak 169 ekor sapi dan 105 ekor kambing.

Kepala Desa (Kades) Pengkok, Sugimin, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas peningkatan kuantitas hewan kurban di wilayahnya. Mengingat jumlahnya yang sangat melimpah, distribusi daging kurban tidak hanya menyasar warga lokal Desa Pengkok, melainkan juga meluas hingga ke luar daerah dan lintas kabupaten.

"Untuk tahun ini alhamdulillah meningkat signifikan. Distribusi utamanya jelas untuk masyarakat Desa Pengkok sendiri. Namun, kami juga membagikannya ke daerah lain, termasuk warga luar daerah yang sering ikut pengajian di Masjid Darussalam," ujar Sugimin saat diwawancarai, Rabu 27 Mei 2026.

Pendistribusian daging kurang tidak hanya untuk warga desa setempat, namun meluas ke desa lain, luar kecamatan bahkan luar kabupaten. Sugimin menambahkan, wilayah distribusi luar daerah tersebut mencakup kawasan tandus dan lereng gunung, seperti, Parangupito (Wonogiri), Gunungkidul (DIY), Kawasan lereng Gunung Merapi dan Merbabu, dan Kecamatan Padas (Pakah), Ngawi (Jawa Timur).

"Untuk luar daerah, biasanya kami kirim dalam bentuk daging siap konsumsi maupun kambing hidup. Kalau dalam bentuk daging, rata-rata ada sekitar 6 sampai 7 ekor sapi yang disembelih khusus untuk luar daerah, dikemas menjadi 350-an bungkus lebih per ekornya. Sementara untuk kambing hidup, ada sekitar 25 sampai 30 ekor yang kita salurkan keluar," kata dia menjelaskan.

Ketika ditanya mengenai rahasia konsistensi warga Desa Pengkok yang selalu berkurban dalam jumlah fantastis, Sugimin menjelaskan bahwa kondisi ekonomi warganya sebenarnya relatif sama dengan daerah lain. Namun, faktor pembeda utamanya adalah etos kerja dan tingginya kesadaran berkurban.

Mayoritas warga Desa Pengkok berprofesi sebagai petani dan pedagang. Menariknya, perputaran ekonomi desa ini juga disokong kuat oleh sektor perantauan. Banyak warga Pengkok yang sukses mengadu nasib di luar pulau dan tetap berkomitmen menunaikan ibadah kurban di kampung halaman.

"Kuncinya warga sini itu pekerja keras. Baik yang bertani di desa maupun yang merantau berdagang di luar pulau. Meningkatnya jumlah kurban tahun ini menjadi indikator bahwa ekonomi warga semakin lancar dan kesadaran rukun Islam mereka juga ikut terkerek naik," ucap Sugimin.

Guna menyiasati banyaknya jumlah hewan yang harus disembelih, panitia kurban membagi lokasi penyembelihan di puluhan titik. Langkah ini diambil agar proses prosesi kurban berjalan efektif dan tidak menumpuk di satu tempat.

"Penyembelihan disebar merata, hampir di tiap-tiap masjid dan musala di Desa Pengkok melaksanakan sendiri. Untuk durasi, prosesi penyembelihan biasanya memakan waktu selama 2 hari. Hari pertama menjadi puncak keramaian, sementara hari kedua tinggal menyisakan beberapa ekor saja," ujar Kades Pengkok. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....