Komunitas Eco Enzim Solo Olah Sampah Organik Jadi Cairan Multifungsi
- 18 Mei 2026 15:15 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Permasalahan sampah organik masih menjadi tantangan serius di lingkungan masyarakat. Selain menimbulkan bau tak sedap, sampah organik yang tidak dikelola dengan baik juga berpotensi memicu penyakit dan pencemaran lingkungan. Berangkat dari kondisi tersebut, sekelompok ibu-ibu di Kelurahan Jajar, Kota Surakarta,yakni Komunitas Eko Enzim Nusantara Solo Raya mengembangkan gerakan pengolahan sampah organik menjadi cairan serbaguna bernama eco enzyme.
Ketua Komunitas Eco Enzim Nusantara Solo Raya Ketua Lingga Puspasari dalam kegiatan talk show green radio Senin 18 Mei 2026 menjelaskan, eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran dengan campuran gula serta air selama tiga bulan. Cairan ini memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih rumah tangga, pupuk tanaman, hingga penghilang bau alami tanpa bahan kimia.
“Eco Enzyme merupakan cairan serbaguna yang cairan sejuta manfaat. Untuk membuatnya hanya tiga bahan kita fermentasikan selama 3 bulan, kita akan mendapatkan cairan yang bernama ekoenzim itu,’ ungkap Lingga .
Menurutnya, pembuatan eco enzyme juga menjadi salah satu cara sederhana untuk mengurangi volume sampah rumah tangga yang selama ini banyak berakhir di tempat pembuangan akhir.
Sementara itu, pegiat lingkungan lainnya, Mulyani mengatakan, sampah organik mendominasi lebih dari 60 persen total sampah rumah tangga. Jika tercampur dan tidak dipilah sejak awal, sampah organik dapat menghasilkan gas metana yang berbahaya bagi lingkungan.
Karena itu, masyarakat didorong mulai membiasakan memilah sampah dari rumah. Selain dijadikan eco enzyme, sampah organik juga dapat diolah menjadi kompos melalui komposter maupun dimanfaatkan melalui lubang biopori.
Gerakan eco enzyme sendiri berawal dari gagasan seorang aktivis lingkungan asal Thailand bernama Rosukon Poompanvong yang prihatin terhadap penggunaan bahan kimia dalam pertanian. Formula tersebut kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dan berkembang di Surakarta sejak masa pandemi COVID-19.
“ Di lingkungan kita menghasilkan sampah baik organik dan anorganik. Kebetulan organik itu 60% lebih banyak daripada anorganik. Dan organik ini kalau bercampur itu sangat menjijikkan. Tetapi kalau kita sudah belajar untuk memilah sampah yang organik sendiri, yang anorganik sendiri, maka organik ini akan bisa kita tangani, ” Ungkap Mulyani .
Kita buat komposter, sampah itu kita masukkan di komposter nanti akan menjadi kompos. Ini bisa skala rumah rumahan. Dan kenapa ada ekoenzim? Sampah itu ada yang bersih, ada yang kotor.
Salah satu relawan, Ester Tanti Damayanti mengatakan, komunitas eco enzyme di Surakarta bergerak secara sukarela tanpa orientasi keuntungan. Para relawan aktif melakukan edukasi kepada masyarakat, sekolah, hingga kelompok mahasiswa mengenai pengelolaan sampah organik ramah lingkungan.
Di wilayah Jajar RW 7, berbagai upaya pengolahan sampah organik juga telah diterapkan melalui pembuatan komposter, lubang biopori, hingga budidaya maggot untuk membantu mengurai limbah rumah tangga.
Para pegiat lingkungan berharap gerakan ini mampu membangun kesadaran masyarakat bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....