BBPMP Jawa Tengah: Fokus Layanan Pendidikan Bermakna Bukan Administrasi
- 12 Mei 2026 17:50 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Pemerintah pusat melalui Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah menegaskan bahwa beban administrasi guru kini telah dipangkas melalui sistem digital.
Hal ini bertujuan agar guru tidak lagi terjebak dalam formalitas dokumen, melainkan fokus pada layanan pendidikan yang berdampak langsung bagi siswa.
Kepala BBPMP Jawa Tengah, Tri Mulyani, menyebutkan melalui platform digital seperti PMM dan pengelolaan kinerja terbaru, guru tidak lagi diwajibkan mengunggah tumpukan sertifikat fisik. Fokus penilaian kini dialihkan pada refleksi dan kualitas pengajaran di dalam kelas.
"Administrasi itu sebenarnya sudah di-cut oleh pemerintah pusat. Sekarang yang kami tekankan adalah motivasi intrinsik. Jangan sampai guru mengajar hanya karena patuh pada administrasi atau takut pada pengawas, tapi harus karena kesadaran untuk memberikan pembelajaran bermakna," ujar Tri Mulyani dalam diskusi Seminar Hari Pendidikan Nasional di Graha Wisata Niaga Surakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Ia menganalogikan kedisiplinan guru dengan penggunaan helm. Jika guru mengajar hanya demi kelengkapan berkas, itu seperti memakai helm karena takut ditilang.
Namun, guru yang berkualitas adalah mereka yang mengajar karena sadar bahwa pendidikan adalah bekal keselamatan masa depan siswa.
Senada, Dekan FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Imam Sujadi mengatakan fenomena sekolah sering terjebak pada formalitas dokumen administratif dibandingkan kualitas interaksi di kelas.
Hal ini sering dipicu oleh tuntutan akreditasi dan supervisi yang cenderung bersifat ceklis dokumen semata.
Paradigma ini dinilai harus segera diubah agar sekolah kembali pada tujuan dasarnya untuk memberikan pembelajaran yang bermakna dan mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh.
"Sering kali sekolah lebih fokus pada masalah administrasi karena mengejar tanda tangan pengawas dibandingkan memastikan murid benar-benar belajar secara bermakna," kata Imam Sujadi.
Diskusi juga menyoroti peran pengawas dan kepala sekolah yang harus bertransformasi dari sekadar pemeriksa berkas menjadi pemberi teladan nyata.
Pengawas didorong untuk tidak ragu memberikan contoh praktik pengajaran inovatif langsung di dalam ruang kelas. Sinergi ini diharapkan mampu menjawab tantangan kodrat zaman siswa yang kini berada di pusaran teknologi, dengan tetap berlandaskan pada kekuatan karakter yang tangguh. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....