Momentum Hardiknas, Dewan Pendidikan Solo Soroti Kognitif dan Karakter Siswa
- 02 Mei 2026 19:49 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 menjadi momentum evaluasi mendalam bagi tata kelola pendidikan di tanah air. Ketua Dewan Pendidikan Kota Surakarta, Joko Riyanto, menilai di bawah kepemimpinan menteri yang baru, sudah mulai terlihat berbagai lompatan progresif dalam sistem pendidikan.
Meskipun perkembangannya sudah mulai terasa, ia mengakui kualitas pendidikan secara signifikan belum sepenuhnya tampak di permukaan. Salah satu perhatian serius tertuju pada kompetensi lulusan yang dianggap belum memenuhi harapan atau belum maksimal.
Hal ini menjadi tantangan besar mengingat output pendidikan merupakan cerminan dari keberhasilan proses belajar mengajar selama bertahun-tahun. Dewan Pendidikan Surakarta terus memantau perkembangan ini agar standar mutu tetap terjaga dengan baik.
"Saya bergembira tatkala sekarang sudah ada tes kompetensi akademik nasional ini mulai digerakkan lagi walaupun nilainya masih di bawah yang kita harapkan," ujar Joko Riyanto kepada rri.co.id, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia menambahkan nilai yang masih di bawah standar minimal 60 tersebut menjadi pemacu untuk melakukan lompatan yang lebih besar di masa depan. Fenomena memprihatinkan juga disoroti terkait rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa, bahkan di tingkat sekolah menengah. Joko mengungkapkan keprihatinannya saat menemukan siswa SMA yang masih kesulitan dalam perhitungan dasar kognitif.
Hal ini diduga terjadi karena fokus pendidikan belakangan ini lebih berat pada aspek psikomotorik dan kecakapan hidup sehingga mengabaikan kemampuan kognitif dasar. Selain masalah akademik, pembangunan karakter siswa tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus digarap secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan.
Dalam hal ini, peran pendidik bukan sekadar mengajar, melainkan harus mampu memberikan keteladanan yang nyata kepada peserta didik. Penguatan karakteristik ini diharapkan dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kepribadian kuat.
Khusus untuk Kota Solo, Joko berharap slogan "Solo Kota Pendidikan" dapat diimplementasikan melalui penajaman karakter budaya lokal yang adiluhung. Nilai-nilai seperti lembah manah dan andhap asor harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah.
Fokus pada tata krama atau unggah-ungguh dianggap sebagai identitas yang harus terus dilestarikan oleh generasi muda di Surakarta. Sinergi antara kemampuan kognitif dan pembentukan karakter ini diyakini akan membawa pendidikan di Kota Solo ke arah yang lebih baik dan bermartabat.
"Harus kita garap bersama, anak itu mau menghormati kepada yang tua dan juga mau bekerja sama dengan yang sebaya, apalagi dengan guru," katanya. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....