Solo Bidik Status Kota Wisata Medis, Layanan Non-BPJS Rumah Sakit Diperkuat

  • 24 Apr 2026 14:21 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menantang rumah sakit di Kota Solo untuk meningkatkan porsi layanan pasien non-BPJS sebagai bagian dari penguatan Solo Medical and Wellness Tourism.

Tantangan ini disampaikan dalam acara Gathering and Kick Off Meeting Solo Medical and Wellness Tourism kolaborasi antara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), dan BTN di Hotel Sunan Solo, Jumat, 24 April 2026.

Penguatan layanan non-BPJS ini dianggap krusial untuk membentuk citra rumah sakit di Solo sebagai destinasi medis pilihan bagi pasar menengah ke atas. Respati mengungkapkan saat ini dua rumah sakit daerah milik Pemkot Surakarta masih didominasi oleh pasien BPJS hingga 95 persen.

Namun, melalui pendampingan dari Kementerian Kesehatan, rumah sakit daerah ditargetkan mampu meningkatkan kunjungan pasien mandiri atau non-BPJS hingga 20 persen.

Transformasi ini bertujuan agar rumah sakit di Solo mampu bersaing dalam jualan layanan wellness dan medis layaknya rumah sakit internasional di luar negeri.

"Tourism hari ini kita bahas, kita harus sepakat dulu kita mau jualan non-BPJS. Makanya disebut tourism. Kami di pemerintah kota sedang berbenah dan mengajak pihak swasta juga ikut menyukseskan hal tersebut melalui pendampingan promosi dan manajemen layanan yang lebih komersial," kata Respati.

Kota Solo sendiri memiliki modal kuat dengan keberadaan 22 rumah sakit yang memiliki diferensiasi tinggi, seperti Rumah Sakit Ortopedi dan layanan spesialis jantung.

Ketua PHRI Solo, Joko Sutrisno, menambahkan selain medis, aspek wellness seperti terapi herbal dari Tawangmangu dan layanan spa tradisional juga menjadi daya tarik yang tidak dimiliki daerah lain.

Inovasi layanan ini diharapkan menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus berwisata.

"Rumah sakit di Solo itu punya diferensiasi banyak sekali, contohnya di Orthopedi yang tamunya sampai luar negeri, ada juga layanan DSA di DKT. Edu-value ini yang kita barengkan dengan layanan wellness tourism seperti herbal dan spa agar orang mau datang ke Solo," ujar Joko.

Guna mendukung kelancaran akses, Pemkot Surakarta akan menyiapkan layanan jemputan khusus di bandara dan stasiun menggunakan kendaraan yang telah dimodifikasi secara khusus. Wisatawan medis nantinya akan disambut dengan pelayanan prima sejak menginjakkan kaki di Solo hingga masuk ke pintu rumah sakit.

Hal ini merupakan bagian dari kampanye "72 Jam di Solo" yang bertujuan memperlama durasi tinggal wisatawan di Kota Bengawan.

Dengan dukungan stimulus dari pemerintah dan kreativitas para influencer nasional yang akan dilibatkan dalam promosi, program ini optimis dapat viral dan menarik market anak muda hingga perempuan usia 18-35 tahun.

Walikota menegaskan kebijakan yang diambil akan bersifat objektif berdasarkan masukan dari para pelaku usaha di lapangan. Keamanan dan kondusivitas kota tetap menjadi prioritas utama pemerintah dalam mendukung kemajuan pariwisata medis ini. (Dania/MI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....