Wali Kota Solo Dorong RS dan Agen Wisata Sepakati Skema Bisnis Health Tourism
- 24 Apr 2026 14:16 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mendorong terwujudnya model bisnis yang konkret antara manajemen rumah sakit dan pelaku usaha wisata untuk menyukseskan program Solo Medical and Wellness Tourism.
Hal tersebut ditegaskan Respati dalam acara Gathering and Kick Off Meeting Solo Medical and Wellness Tourism yang digelar di Hotel Sunan Solo, Jumat, 24 April 2026.
Menurutnya, kolaborasi ini tidak akan berjalan maksimal jika tidak ada kesepakatan mengenai skema pembagian keuntungan atau fee yang jelas bagi para pelaku perjalanan wisata.
Dalam paparannya, Respati menekankan rumah sakit harus fokus pada peningkatan pelayanan medis dan kesejahteraan dokter, sementara urusan promosi dan teknis perjalanan diserahkan kepada agen wisata.
Ia mengusulkan adanya kesepakatan formal terkait komisi bagi agen travel yang berhasil membawa pasien untuk melakukan prosedur medis maupun layanan kebugaran di Solo.
Dengan demikian, ekosistem pariwisata medis dapat tumbuh sebagai industri yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.
"Biar terjadi lama, bisnis modelnya ditetapkan sekalian, pakai fee atau komisi. Agen travel bertugas menjemput dari bandara hingga mempromosikan layanan rumah sakit. Jika tidak ada titik temu bisnis seperti itu, program ini tidak bisa jalan karena rumah sakit tidak mungkin mengurusi wisatanya sendiri," ujar Respati.
Pemerintah Kota Surakarta juga berkomitmen menyiapkan stimulus anggaran serta fasilitas pendukung untuk memperkuat ekosistem ini.
Salah satu langkah nyata adalah penyediaan armada bus khusus dari Batik Solo Trans (BST) yang akan dimodifikasi menjadi kendaraan penjemputan pasien health tourism dari stasiun maupun bandara.
Fasilitas ini nantinya akan didukung melalui kerjasama dengan pihak perbankan guna memberikan kesan pelayanan premium bagi wisatawan medis yang datang ke Kota Bengawan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo, Joko Sutrisno, menyambut baik arahan tersebut dan meminta seluruh anggota PHRI serta Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) segera bergerak melakukan aksi nyata.
Menurutnya, Kota Solo memiliki keunggulan kompetitif dengan keberadaan 22 rumah sakit yang memiliki spesialisasi beragam, mulai dari ortopedi hingga layanan kesehatan tradisional herbal.
Keunggulan inilah yang harus dikemas menjadi paket wisata menarik yang kompetitif dibandingkan destinasi luar negeri seperti Penang atau Singapura.
"Kita harus punya mindset sukses, kalau orang lain bisa, kita harus bisa. Yang penting action dulu, jangan hanya konsep terus yang tidak rampung-rampung. Kita punya hotel dari bintang satu sampai bintang lima yang siap menampung wisatawan medis dengan berbagai pilihan harga," kata Joko.
Sinergi ini diharapkan mampu mengoptimalkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Solo. Respati berharap kolaborasi antara PHRI, ASITA, dan BTN ini menjadi momentum awal untuk menjadikan Solo sebagai "Penangnya Jawa Tengah".
Melalui keterbukaan dan kekompakan antar pelaku usaha, target kunjungan wisatawan medis di tahun 2026 diharapkan dapat meningkat signifikan.
Branch Manager Bank BTN Kantor Cabang Solo, Anita Septi Purwarini mengatakan siap menjadi katalisator bisnis untuk menjembatani kolaborasi antara rumah sakit dan pelaku wisata.
Selain memfasilitasi pertemuan strategis, BTN juga menyiapkan infrastruktur pembayaran digital guna mendukung perputaran ekonomi daerah.
“Solo Medical Tourism ini merupakan kolaborasi di mana Bank BTN berperan sebagai katalisator bisnis. Kami memfasilitasi PHRI, ASITA, dan rumah sakit karena ide ini perlu wadah untuk bisa jalan. Harapannya, realisasi ini akan meningkatkan pendapatan asli daerah dan devisa kita, jadi orang-orang tidak perlu berobat ke luar negeri lagi.” katanya. (Dania/MI)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....