Literasi Keuangan Jadi Kunci UMKM Perempuan Solo Naik Kelas

  • 17 Apr 2026 17:03 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Kota Solo saat ini memiliki lebih dari 13 ribu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadi penopang utama ekonomi daerah. Di tengah lonjakan transaksi digital yang signifikan, kemampuan mengelola keuangan secara profesional kini menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha.

Hal tersebut ditegaskan oleh Astrid Widayani saat menjadi pembicara utama dalam acara Women Art & Society 2026 di Pendhapi Gedhe Balaikota Surakarta, Jumat, 17 April 2026.

Dalam forum bertajuk "Peran Wanita Mandiri bagi Perekonomian Negeri" tersebut, Astrid menekankan bahwa literasi keuangan adalah fondasi bagi perempuan pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Tanpa pemahaman yang kuat mengenai arus kas, pelaku usaha dikhawatirkan akan terjebak dalam kondisi stagnan. Oleh karena itu, disiplin finansial harus mulai diterapkan sejak dini oleh para pengusaha perempuan di Solo Raya.

Fondasi bisnis yang sehat dapat dimulai dari langkah-langkah praktis, seperti memisahkan rekening pribadi dengan rekening usaha secara tegas.

Selain itu, pencatatan arus kas harian serta penyusunan anggaran yang realistis menjadi keharusan agar keberlanjutan usaha tetap terjaga. Langkah sederhana ini dinilai mampu melindungi pelaku usaha dari potensi kerugian yang tidak terdeteksi sejak awal.

"Perempuan hari ini bukan hanya penggerak keluarga, tetapi juga penggerak ekonomi. Kuncinya ada pada kemampuan mengelola keuangan secara disiplin, bijak, dan adaptif terhadap perubahan zaman," ujar Astrid Widayani dalam paparannya, Jumat, 17 April 2026.

Seiring dengan tren digitalisasi, nilai transaksi QRIS di wilayah Solo Raya tercatat telah menembus angka lebih dari Rp5,4 triliun pada tahun 2025 lalu.

Perubahan ekosistem ekonomi ini menuntut para pelaku UMKM untuk segera beralih dari pencatatan manual ke aplikasi digital yang lebih transparan. Penggunaan platform digital bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan daya saing pasar.

"Digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. UMKM harus mulai memanfaatkan platform digital, pembayaran non-tunai, hingga aplikasi pencatatan keuangan agar lebih transparan dan terukur," kata Astrid.

Di sisi lain, Astrid mengingatkan para pelaku usaha untuk mewaspadai layanan keuangan ilegal yang kian marak dan berisiko tinggi. Ia menyarankan agar masyarakat memanfaatkan akses pembiayaan resmi seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dengan literasi yang baik dan ekosistem yang kuat, diharapkan perempuan pelaku UMKM di Solo mampu tumbuh menjadi motor penggerak kesejahteraan keluarga dan kota. (Dania)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....