Longsor di Kalikobok, Pondasi Amblas 2 Rumah Warga Terancam Ambrol
- 17 Apr 2026 16:39 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sragen selama beberapa hari terakhir memicu bencana tanah longsor di Dukuh Banyuurip, Desa Kalikobok, Kecamatan Tanon. Akibatnya, dua rumah warga terancam ambruk dan penghuninya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Kabupaten Sragen, pergeseran tanah di lokasi tersebut terjadi sebanyak tiga kali dalam kurun waktu lima hari terakhir, terhitung sejak Minggu 12 April. Kerusakan paling parah dialami oleh keluarga Jumirin (54) dan Firiyanto (30).
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Sragen, R. Triyono Putro, mengonfirmasi bahwa kondisi tanah di lokasi kejadian sangat tidak stabil. Retakan tanah dilaporkan mencapai kedalaman 1 meter dengan panjang longsoran sekitar 15 meter.
"Kami telah menerjunkan tim TRC untuk melakukan asesmen dan penanganan darurat. Kondisi rumah Bapak Jumirin saat ini rawan roboh dengan tanah pekarangan yang bergeser hingga 50 sentimeter. Sementara itu, pondasi rumah bagian belakang milik Bapak Firiyanto juga sudah ambrol," ujar R. Triyono Putro dalam keterangan resminya, Jumat 17 April.
Merespons situasi yang membahayakan tersebut, BPBD Sragen bersama unsur TNI, Polri, relawan, dan warga setempat melakukan kerja bakti massal pada Jumat pagi. Langkah drastis diambil dengan melakukan pembongkaran rumah milik Jumirin untuk mengantisipasi kerugian material yang lebih besar jika bangunan roboh secara tiba-tiba.
"Total ada sekitar 75 personel gabungan di lokasi. Selain membantu pembongkaran rumah, kami juga menyalurkan bantuan logistik pangan dan non-pangan bagi keluarga terdampak yang saat ini mengungsi ke rumah kerabat," kata Triyono.
Triyono menyebut, korban terdampak dafi peristiwa ini dua Kepala Keluarga (6 Jiwa). Kerusakan rumah kategori berat satu unit rawan roboh milik Pak Jumirin dan satu rumah rusak bagian pondasi milik Firiyanto.
"Total kerugian ditaksir mencapai Rp50.000.000. Kedalaman retakan mencapai 1 meter; pergeseran tanah susulan masih terus terjadi setiap hujan turun," kata Triyono.
Meski penanganan awal telah dilaksanakan, Triyono Putro mewanti-wanti masyarakat di sekitar area longsor untuk tetap waspada. Keterlambatan laporan yang masuk ke pihak BPBD sempat menjadi kendala, sehingga ia meminta aparat desa dan warga lebih proaktif melaporkan gejala pergeseran tanah.
"Kami mengimbau warga untuk selalu waspada, terutama jika terjadi hujan dengan durasi lama. Potensi longsor susulan masih sangat tinggi mengingat kondisi retakan tanah yang cukup dalam," katanya menjelaskan.
Hingga berita ini diturunkan, para pengungsi masih bertahan di rumah saudara masing-masing sembari menunggu langkah penanganan lebih lanjut dari pemerintah daerah terkait relokasi atau perbaikan hunian. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....