Kuliah Tamu FISH Univet Bantara, Wirausaha Komunikasi Dengan Ide Kreatif

  • 06 Apr 2026 21:43 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sukoharjo – Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menggelar kuliah tamu bertajuk "Pemberdayaan Wirausaha Komunikasi" pada Senin 6 April 2026.

Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan kesiapan praktis menghadapi dinamika industri kreatif yang kini tengah bertransisi.

Dekan FISH Univet Bantara, Dr. Joko Suryono, menjelaskan bahwa kehadiran praktisi ke kampus merupakan bagian dari implementasi Outcome-Based Education (OBE). Melalui skema ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami taktik nyata di lapangan kerja.

"Tujuannya agar mahasiswa benar-benar memahami teknik dan taktik proses wirausaha komunikasi. Kami ingin meningkatkan daya wirausaha mahasiswa, sehingga mereka mampu melihat peluang bisnis di bidang ini secara mandiri," ujar Dr. Joko di sela kegiatan.

Kuliah tamu kali ini menghadirkan Tono Dzaki, praktisi senior dari Creative Boutique dan Magnacre Digital Studio. Dalam pemaparannya, Tono menyoroti fenomena kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sering dianggap sebagai ancaman bagi pekerja kreatif.

Tono menegaskan bahwa teknologi, sepesat apa pun perkembangannya, tetaplah alat yang harus dikendalikan oleh manusia. Ia mencontohkan bagaimana pembuatan materi presentasi video berdurasi 4 menit yang dulu memakan waktu berhari-hari, kini bisa diselesaikan hanya dalam satu malam dengan bantuan AI.

"Apapun teknologinya, yang terpenting adalah manusianya. Kita harus menguasai teknologi itu agar menjadi tuan, jangan sampai sebaliknya. Saya imbau mahasiswa untuk mulai menggali potensi dari AI ini sebagai pendukung produktivitas," tegas pria yang telah 30 tahun berkecimpung di dunia periklanan tersebut.

Selain membahas teknologi, Tono juga menyentuh isu krusial mengenai perlindungan hukum terhadap ide kreatif. Ia menyayangkan adanya pandangan yang menilai ide kreatif dengan nilai nol. Menurutnya, dunia kreatif melibatkan proses belajar dan jam terbang yang panjang.

"Di dunia kreatif, profesi seperti fotografer, editor, hingga penulis skenario adalah profesi yang halal dan diraih dengan latihan panjang. Sangat menyedihkan jika ide kreatif dianggap tidak bernilai. Padahal, ide itulah yang menggerakkan industri desain, video, hingga produk," tambahnya.

Dalam sesi praktik, Tono memberikan tantangan kepada para mahasiswa untuk menyusun rencana bisnis singkat hanya dalam waktu 30 menit. Hasilnya pun cukup mengejutkan; banyak ide bisnis segar khas anak muda yang muncul dan dinilai memiliki potensi realisasi yang tinggi.

"Generasi muda sekarang punya wawasan yang luas. Tadi saya challenge mereka dan hasilnya banyak ide menarik. Saya harap ada yang serius menggeluti dunia iklan ini agar terjadi regenerasi," pungkas Tono.

Rangkaian program penguatan kompetensi ini rencananya akan berlanjut dengan mengundang praktisi dari Universitas Amikom Indonesia untuk semakin memperluas cakrawala wirausaha mahasiswa Ilmu Komunikasi Univet Bantara Sukoharjo. (Edwi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....