Kolaborasi Penyiaran Jadi Pilar Strategis Jaga Ketahanan Nasional

  • 01 Apr 2026 19:26 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah menekankan pentingnya kolaborasi seluruh lembaga penyiaran untuk mewujudkan ketahanan nasional di tengah era disrupsi digital.

Momentum Hari Penyiaran Nasional ke-93 tahun 2026 menjadi titik balik untuk menegaskan penyiaran bukan sekadar industri hiburan, melainkan pilar strategis penjaga keutuhan bangsa.

Koordinator Bidang Pengelolaan Kebijakan dan Sistem Penyiaran KPID Jateng, Intan Nurlaili, menyatakan penyiaran harus mampu memperkuat sistem imun masyarakat terhadap informasi global yang tidak terkontrol.

Intan menjelaskan ketahanan nasional tidak hanya mencakup aspek militer, tetapi juga menyentuh dimensi ideologi, sosial budaya, ekonomi, hingga informasi. Dalam hal ini, lembaga penyiaran memegang tanggung jawab besar sebagai gatekeeper atau penjernih informasi di tengah maraknya hoaks di media sosial.

Dengan menghadirkan konten yang akurat dan berimbang, lembaga penyiaran diharapkan dapat mencegah disinformasi yang berpotensi memecah belah persatuan masyarakat.

"Lembaga penyiaran punya tanggung jawab untuk menghadirkan informasi berimbang dan kredibel guna menjaga stabilitas sosial serta mencegah disinformasi yang bisa memecah belah masyarakat," ujar Intan Nurlaili kepada rri.co.id, Rabu, 1 April 2026.

Senada dengan hal tersebut, Komisioner KPID Jawa Tengah, Anas Syahirul Alim, menyoroti peran vital lembaga penyiaran dalam menjangkau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Menurutnya, konten siaran harus mampu memberikan otorisasi dan edukasi yang kuat bagi masyarakat di akar rumput.

Radio, sebagai salah satu media yang paling dekat dengan rakyat, memiliki keunggulan aksesibilitas yang langsung menyentuh masyarakat bawah sehingga sangat efektif dalam mempererat ikatan sosial.

Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah bagaimana lembaga penyiaran dapat adaptif dan inovatif terhadap perkembangan teknologi terbaru. Anas menyebut konvergensi media sebagai solusi utama, di mana penyiaran tidak lagi hanya mengandalkan audio, tetapi juga merambah ke konten visual dan saluran daring.

Dengan tim yang mampu melakukan multitasking, lembaga penyiaran dapat tetap relevan bagi generasi digital tanpa meninggalkan fungsi dasarnya sebagai pemberi informasi yang terpercaya.

"Lembaga penyiaran harus adaptif terhadap teknologi terbaru melalui konvergensi media, tidak hanya sisi audio tetapi juga konten visual guna menjaga kohesivitas sosial di masyarakat," kata Anas.

Selain aspek teknologi, penguatan identitas kebangsaan melalui konten yang mengangkat nilai-nilai kebhinekaan, toleransi, dan kearifan lokal tetap menjadi prioritas utama. Melalui siaran yang berkualitas, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dan cerdas dalam mengonsumsi media.

Kolaborasi yang kuat antarpihak menjadi kunci agar penyiaran Indonesia tetap menjadi warna utama dalam menciptakan kedaulatan informasi serta mengokohkan ketahanan nasional menuju masa depan yang lebih stabil. (Dania)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....