Banjir Luapan Bengawan Solo Rendam Ratusan Hektar Lahan Pertanian di Sragen

  • 06 Mar 2026 14:17 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sragen - Banjir yang terjadi di lima kecamatan di Kabupaten Sragen dari luapan Sungai Bengawan Solo dan anak sungainya sejak Rabu malam hingga Kamis 4–5 Maret 2026 merendam ratusan hektare lahan pertanian. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, didampingi Wakil Bupati Suroto, Sekretaris Daerah Hargiyanto, serta Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sragen R. Triyono Putro meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak banjir di wilayah Kecamatan Sidoharjo, Jumat 6 Maret.

Tiga lokasi yang menjadi titik peninjauan yakni Desa Pandak, Desa Sribit, dan Desa Tenggak. Saat peninjauan dilakukan, kondisi banjir di wilayah tersebut sudah berangsur surut.

Bupati Sigit menyampaikan bahwa peninjauan dilakukan untuk melihat langsung dampak banjir sekaligus mengidentifikasi permasalahan serta menyerap aspirasi masyarakat terkait penanganan banjir ke depan.

“Banjir ini terjadi karena pertemuan dua arus sungai, yaitu luapan Bengawan Solo yang debitnya sangat besar dan aliran Sungai Munggung dari wilayah Sragen yang seharusnya mengalir ke Bengawan Solo. Namun karena Bengawan Solo meluap, aliran tersebut tidak dapat masuk sehingga menimbulkan banjir di sejumlah wilayah,” ujar Bupati.

Menurutnya, permasalahan utama berasal dari luapan Bengawan Solo. Pemerintah Kabupaten Sragen akan berkoordinasi dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) untuk mencari solusi penanganan yang tepat.

Selain itu, pemerintah daerah juga mengidentifikasi berbagai dampak lain seperti jembatan yang tergerus dan terancam roboh, serta kerugian pada tanaman padi milik petani. Temuan tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan dan solusi ke depan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sragen R. Triyono Putro menjelaskan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat menyebabkan luapan Sungai Bengawan Solo di sejumlah wilayah. Luapan air menggenangi beberapa ruas jalan di antaranya di Sribit, Pandak, Tangkil, Bener, dan Bumpit.

“Akibat genangan air, tim BPBD melakukan pemantauan serta membantu akses evakuasi bagi anak-anak sekolah karena sejumlah ruas jalan masih tertutup air. Seiring berjalannya waktu, kondisi air berangsur surut sehingga akses jalan sudah dapat kembali dilalui,” Kata Triyono Putro.

Dari pemantauan di lapangan, genangan air lebih banyak terjadi di ruas jalan, sementara yang masuk ke rumah warga relatif sedikit dan cepat surut. Wilayah yang paling lama mengalami genangan berada di Desa Pandak dan Sribit dengan ketinggian air di jalan mencapai sekitar 60 hingga 70 sentimeter.

“BPBD Kabupaten Sragen terus melakukan pemantauan perkembangan kondisi di lapangan, termasuk melalui survei udara menggunakan drone. Koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi untuk melaporkan perkembangan situasi,” katanya.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem serta bersiap melakukan evakuasi mandiri di wilayah rawan banjir. Tim BPBD bersama relawan dan Desa Tangguh Bencana terus disiagakan untuk membantu masyarakat apabila terjadi kondisi darurat. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....