Dilema Paket MBG Ramadan, Menu 'Kering' Tuai Sorotan

  • 25 Feb 2026 16:37 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sragen Jawa Tengah awal Ramadan ini menjadi sorotan. Alih-alih menuai apresiasi, jagat media sosial justru riuh dengan keluhan terkait kualitas paket makanan yang dibagikan.

Grup-grup media sosial penuh dengan unggahan menu 'kering' MBG yang disajikan saat bulan Ramadan. Mulai dari menu yang dianggap kurang variatif, hingga temuan telur rebus yang masih mentah saat dibawa pulang siswa.

Kejadian itu di Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPPG) Gondang 1, Sragen. Ketua SPPG Gondang 1, Afrizal mengaku menu MBG pada Senin 23 Februari lalu berupa telur rebus dua biji, pisang cokelat dan jeruk.

Rizal, sapaannya itu mengaku bahwa ada beberapa telur rebus yang belum matang. Ia mengaku ada kesalahan teknis dari SPPG. "Itu memang kesalahan murni dari SPPG karena ada kendala teknis terkait pematangan telur. Menunya memang telur rebus, masing-masing anak dapat dua," katanya.

Rizal menyebut bahwa membagikan 2.400 MBG ke 8 sekolah. Dari 2.400 penerima masing-masing menerima dua butir telur. "Kita juga sudah menyampaikan permohonan maaf kepada penerima manfaat dan kami mengganti menu dua telur," ucapnya.

Setelah mendapat laporan itu, pihaknya mengganti menu telur kemarin ke susu kemasan yang dibagikan hari ini. Susu yang ia bagikan pada hari ini berjumlah 4.800 sesuai dengan telur yang dibagikan kemarin.

Pasca kejadian ini, pihaknya langsung melakukan evaluasi total terhadap seluruh relawan dan tim pengolahan. Kedepannya, standar operasional prosedur (SOP) akan diperketat, termasuk kewajiban melakukan uji sampel kematangan pada setiap tahap steam.

Terpisah Budiono Rahmadi, salah satu mitra penyedia tempat (dapur) MBG, tak menampik adanya kendala teknis di lapangan. Menurutnya, transisi menu dari makanan siap saji ke paket "menu kering" selama bulan puasa ternyata membawa kerumitan tersendiri bagi pengelola dapur.

"Memang menu kering itu agak merepotkan untuk disusun. Tim di dapur, mulai dari ahli gizi hingga akuntansi, harus memutar otak lebih keras karena pilihannya terbatas, paling hanya roti dan buah," ujar Budiono saat dihubungi awak media kemarin.

Persoalan bukan sekadar jenis menu, tapi juga keterbatasan ruang gerak finansial. Budiono membeberkan bahwa dengan bujet Rp 10.000 untuk porsi dewasa dan Rp 8.000 untuk anak-anak, variasi menu menjadi sangat terbatas. Hal inilah yang memicu kejenuhan dan protes dari wali murid di media sosial.

"Setelah kami minta keterangan, tim memang agak keteteran. Dengan nominal tersebut, pilihannya ya itu-itu saja. Intinya, kreativitas menu sedang diuji habis-habisan," ucapnya.

Terkait viralnya temuan telur dan buah yang belum matang, Budiono memberikan penjelasan logis namun sekaligus menjadi kritik bagi sistem pengadaan. Pihaknya menyebut, pengadaan dalam jumlah besar seringkali menabrak keterbatasan infrastruktur UMKM lokal.

"Contohnya alpukat atau pisang. Kalau mau matang serentak dalam jumlah ribuan, itu pesannya harus tiga hari sebelumnya, bahkan perlu proses imbu (pemeraman). Kalau mendadak, ya pasti ada yang mentah," kata dia menjelaskan

Masalah kian pelik karena instruksi pusat mewajibkan pelibatan UMKM, sementara dari sisi infrastruktur, banyak UMKM yang belum siap menangani kapasitas raksasa.

Menyikapi problematika ini, Budiono menyarankan agar pengelola dapur MBG lebih berhati-hati dalam memilih jenis protein dan buah. Ia mendorong peningkatan porsi susu dan telur, namun dengan pengawasan matang yang lebih ketat.

"Ini bukan makanan siap saji yang langsung dimakan di tempat, tapi dibawa pulang untuk buka puasa. Perlu kehati-hatian ekstra, istilahnya harus 'main aman' agar kualitas tetap terjaga sampai ke tangan siswa," ucapnya. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....