Sadranan: Tradisi Sambut Ramadan Akulturasi Budaya Jawa-Islam

  • 30 Jan 2026 19:43 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Tradisi sadranan kembali menjadi perhatian masyarakat Jawa menjelang bulan suci Ramadan. Hal ini dibahas dalam Dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta yang menghadirkan Dr. Arifuddin, Lc., M.A., Dosen Prodi Sastra Arab dan Prodi S2 Ilmu Linguistik FIB UNS Surakarta, pada Jumat 27 Januari 2026.

Dalam dialog tersebut, Dr. Arifuddin menjelaskan bahwa secara etimologis, kata sadranan berasal dari bahasa Sansekerta sraddha yang berarti keyakinan atau kepercayaan. Ia menyebut tradisi ini berakar dari era Kerajaan Majapahit sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. “Awalnya berupa ritual pemujaan di masa Hindu-Buddha, kemudian mengalami Islamisasi,” ujarnya.

Menurut Arifuddin, proses Islamisasi membuat makna sadranan bergeser tanpa menghilangkan nilai dasarnya. Ritual yang semula bersifat pemujaan diubah menjadi kegiatan doa bersama untuk para leluhur. “Nilai yang ditanamkan adalah mendoakan orang tua, guru, dan leluhur yang telah wafat,” katanya.

Sadranan biasanya dilakukan pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa, menjelang Ramadan. Nama Ruwah sendiri disebut berasal dari kata Arab arwah, bentuk jamak dari ruh. “Karena di bulan ini masyarakat banyak mendoakan arwah para leluhur, maka disebut bulan Ruwah,” jelas Dr. Ariefudin.

Dalam praktik budaya Jawa, sadranan tidak hanya berisi doa, tetapi juga kegiatan sosial seperti resik-resik makam dan lingkungan sekitar. Kegiatan ini dikerjakan secara gotong royong oleh warga desa. “Nilai kebersamaan, kerukunan, dan kepedulian sosial sangat kuat di sini,” ujarnya.

Setelah doa bersama, masyarakat biasanya membawa dan saling menukar makanan dalam tradisi kembul bujana, sebuah tradisi Jawa makan bersama-sama dalam satu wadah atau lesehan menggunakan alas daun pisang. Makan bersama ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus sarana mempererat silaturahmi antarwarga. Arifuddin menilai tradisi ini membentuk karakter sosial yang guyub dan harmonis.

Dari sudut pandang Islam, sadranan dipandang sebagai bentuk akulturasi budaya yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Selama tidak mengandung unsur syirik, kegiatan seperti berdoa, bersedekah, dan mengingat kematian dinilai sejalan dengan ajaran Islam. “Justru ini menjadi media dakwah yang membumi,” kata Arifuddin.

Meski demikian, ia mengingatkan agar sadranan tidak kehilangan makna akibat praktik yang menyimpang, seperti hiburan berlebihan atau konsumsi minuman keras. Menurutnya, pelestarian sadranan perlu dibarengi pemahaman nilai spiritual dan kearifan lokal. “Yang terpenting bukan hanya perayaannya, tapi penghayatan nilainya,” katanya. (Hilma)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....