Bukan Sekadar Ziarah, Ini Makna Mendalam Tradisi Sadranan
- 30 Jan 2026 11:33 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID., Surakarta - Tradisi Sadranan yang rutin digelar masyarakat Jawa menjelang bulan suci Ramadan ternyata memiliki akar sejarah yang sangat dalam. Istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta "Srada" yang mengandung arti kepercayaan atau keyakinan.
Awal mulanya, sejarah Sadranan dapat ditarik hingga zaman Kerajaan Majapahit. Kala itu, tokoh Baratugayatri melakukan ritual pemujaan untuk menghormati para leluhur kerajaan, sebuah tradisi yang kemudian dilestarikan oleh penerusnya, Raja Hayam Wuruk.
Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Arifuddin, Lc., M.A., Kaprodi S-2 Ilmu Linguistik sekaligus Dosen Sastra Arab FIB UNS Surakarta, saat berdialog di Pro4 RRI Surakarta (95,2 FM), Jumat 30 Januaru 2026. Ia menjelaskan bahwa meski ritual era Majapahit sempat berhenti seiring kemunduran kerajaan, namun semangatnya tetap diteruskan oleh rakyatnya saat itu.
Kondisi tersebut terus bertahan hingga agama Islam masuk ke tanah Jawa. Melalui peran Wali Songo, tradisi ini tidak dihapus melainkan mengalami proses penyesuaian atau islamisasi agar sejalan dengan ajaran tauhid.
"Wali Songo muncul dengan mengubah pemaknaannya. Ritual lama tersebut diisi dengan doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan untuk para leluhur. Ada pula nilai syukur karena dilaksanakan pada bulan Ruwah menjelang Ramadhan, sebagai bentuk syukur atas kesempatan memasuki bulan suci," ujar Dr. Arifuddin.
Terkait penamaan bulan Ruwah, ia menjelaskan istilah tersebut muncul pada masa Mataram Islam yang diadaptasi dari bahasa Arab "Arwah" atau ruh. Meski raga manusia telah meninggal, ruhnya diyakini tetap ada di alam barzah, sehingga bulan ini menjadi momen khusus bagi masyarakat untuk mendoakan ruh-ruh tersebut.
| Baca juga: Pergeseran Makna Ngabuburit bagi Generasi Z |
Dr. Arifuddin menekankan bahwa mendoakan orang meninggal adalah hal yang disepakati semua pihak tanpa perbedaan pendapat. Perbedaan hanya terletak pada caranya saja, seperti tradisi Jawa yang mengenal Yasinan serta peringatan 7 hari hingga 1000 hari, yang mana praktik ziarahnya pun memiliki dasar sanad dan hadist yang kuat.
Di tingkat desa, nilai Sadranan diwujudkan melalui gotong royong membersihkan makam di bawah koordinasi kepala desa. Masyarakat dan tokoh agama berkumpul untuk berdoa bersama agar ahli kubur dijauhkan dari azab, sekaligus memohon agar warga yang masih hidup tetap rukun, guyub, dan harmonis.
Kegiatan ini pun ditutup dengan momen makan bersama dan saling tukar menu makanan antarwarga di area pemakaman. Menurut Dr. Arifuddin, nilai-nilai positif seperti rasa syukur, kebersamaan, dan silaturahmi yang tinggi menjadi alasan mengapa tradisi Sadranan perlu terus dilestarikan.
Berikut ini link untuk mendengarkan Obrolan Budaya acara "Jagongan" di Pro4 RRI Surakarta selengkapnya: Obrolan Budaya di Pro4 RRI Surakarta (95,2 FM)(Dinar Rusydiana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....