Tafakur Ramadan Tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan

  • 25 Feb 2026 20:54 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Bulan suci Ramadan kembali hadir sebagai momentum spiritual bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Dalam ajaran Islam, Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana pembinaan diri secara menyeluruh, lahir maupun batin.

Dalam khazanah Islam, yang disampaikan H.Moh Zainal Abidin, S.Kom.I., M.Pd. menjadi narasumber pada program siaran Nuansa Ramadan dengan tema Tafakur Ramadhan pada Minggu, 22 Februari 2026, dipandu Riandani Surya. Tafakur dipahami sebagai ibadah hati, ibadah akal, dan ibadah fikir yang memperdalam makna puasa

"Menyambut ramadan ini dengan hati yang sadar jiwa yg siap dan akal yg mau berfikir, ” kata Zainal.

Konsep tafakur dalam khazanah Islam dipahami sebagai ibadah hati, ibadah akal, dan ibadah pikir yang mengajak setiap muslim Ramadan dengan hati yang sadar, jiwa yang siap, dan akal yang mau berpikir. Ramadan disebut sebagai bulan tafakur karena melalui puasa, umat diajak menahan dahaga menyambut agar merenungi nikmat, menahan amarah agar memperbaiki akhlak, serta menahan syahwat agar memahami arah dan tujuan hidup.

Namun demikian, Ramadan tanpa tafakur berpotensi menjadikan ibadah puasa sekadar rutinitas fisik tanpa makna mendalam. Tafakur bukanlah aktivitas meratapi rasa lapar, melainkan kesempatan emas untuk memperkuat kesadaran spiritual saat kondisi jiwa berada dalam kendali dan kejernihan.

Terdapat empat bentuk tafakur yang penting diamalkan terutama di bulan Ramadan, yakni tafakur nikmat, tafakur dosa, tafakur umur, dan tafakur arah hidup. Seperti yang dikatakan Zainal “Tafakur nikmat melalui lapar dan dahaga menumbuhkan empati sosial, tafakur dosa melatih istiqamah dalam perbaikan diri, tafakur umur mengingatkan keterbatasan usia, dan tafakur arah hidup meneguhkan kembali tujuan utama penciptaan manusia, " ucapnya.

Dalam praktiknya, tafakur sering kali disamakan dengan muhasabah, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Tafakur bersifat universal sebagai ibadah hati dan pikir yang luas, sedangkan muhasabah lebih terfokus pada evaluasi diri secara spesifik terhadap amal dan kesalahan pribadi.

Pentingnya tafakur di bulan Ramadan tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan kualitas ibadah secara menyeluruh. Dengan tafakur, setiap amalan yang dilakukan memiliki kesadaran, makna, dan orientasi perbaikan yang jelas sehingga ibadah tidak berhenti pada aspek seremonial.

Ramadan merupakan kesempatan emas karena pada bulan ini hawa nafsu ditekan sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan reflektif. Oleh sebab itu, umat Islam diajak memanfaatkan momentum ini untuk bertafakur dengan landasan ilmu, demi melahirkan ketaatan, kerendahan hati, serta membentuk insan yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan menjadi umat yang dibanggakan oleh Rasulullah

( Nur Anisa/STABN Raden WijayaMagang )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....