Bukan Sekadar Pajangan, Ayam Digantung pada Gerobak Bakmi?
- 05 Agt 2026 14:40 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Jika sering membeli bakmi dari pedagang kaki lima, pasti pernah melihat seekor ayam utuh yang digantung di sisi gerobak. Pemandangan ini sudah menjadi ciri khas banyak penjual bakmi di berbagai daerah di Indonesia. Namun, tidak sedikit orang yang bertanya-tanya, mengapa ayam tersebut harus digantung dan bukan disimpan di dalam gerobak?
Salah satu alasan utamanya adalah sebagai media promosi yang menarik perhatian calon pembeli. Menurut Junaidi, salah satu penjual bakmi jawa di Kota Solo Rabu (5 Agustus 2026) mengaku, maksud ayam digantung agar menarik perhatin.
“Ayam saya gantung didepan gerobak, ya untuk promosi menarik perhatian pembeli”, ungkapnya.
Ayam utuh yang tergantung menjadi penanda bahwa pedagang menjual bakmi ayam dengan bahan utama ayam asli. Dari kejauhan, orang yang melintas dapat langsung mengenali jenis dagangan yang dijual tanpa perlu membaca tulisan pada gerobak. Selain berfungsi sebagai promosi, ayam yang digantung juga menjadi simbol kualitas.
Pembeli dapat melihat secara langsung kondisi ayam yang digunakan, mulai dari warna kulit, ukuran, hingga kebersihannya. Hal ini memberikan kesan bahwa bahan baku yang dipakai masih segar dan berkualitas, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan. Tradisi menggantung ayam ini juga memiliki pengaruh dari budaya kuliner Tionghoa.
Pada restoran atau kedai Chinese food, ayam rebus, bebek panggang, maupun daging babi panggang sering dipajang dengan cara digantung di etalase kaca. Selain memudahkan penyajian, cara tersebut menjadi daya tarik yang telah digunakan selama puluhan tahun dan kemudian diadaptasi oleh pedagang bakmi ayam di Indonesia.
Dari sisi kepraktisan, posisi ayam yang digantung memudahkan pedagang saat melayani pembeli. Ketika ada pesanan, ayam dapat langsung dipotong atau disuwir sesuai kebutuhan tanpa harus mengeluarkannya dari wadah tertutup. Cara ini membuat proses penyajian menjadi lebih cepat, terutama ketika pembeli sedang ramai.
Namun, ayam yang digantung tetap harus memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan. Pedagang yang baik akan memastikan ayam telah dimasak hingga matang, digantung dalam waktu yang tidak terlalu lama, terlindung dari debu dan serangga, serta segera diganti apabila kualitasnya mulai menurun. Kebersihan peralatan, pisau, dan tangan penjual juga sangat menentukan keamanan makanan yang disajikan.
Di beberapa daerah, tidak semua ayam yang digantung akan habis dijual pada hari itu. Ada pedagang yang menggunakan ayam tersebut sebagai contoh display, sementara ayam untuk penyajian disimpan di dalam wadah yang lebih terlindungi. Namun, banyak pula pedagang yang memang langsung mengambil suwiran dari ayam yang dipajang karena lebih praktis dan mudah dijangkau.
Pada akhirnya, ayam yang digantung di gerobak bakmi bukan sekadar hiasan. Keberadaannya memiliki fungsi sebagai penanda dagangan, media promosi, simbol kualitas, sekaligus bagian dari tradisi penyajian kuliner yang telah berlangsung sejak lama. Selama pedagang menjaga kebersihan dan mengikuti prinsip keamanan pangan, cara penyajian ini tetap dapat dilakukan dengan aman dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta bakmi.
Referensi:
Pedoman higiene dan sanitasi pangan siap saji dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Informasi mengenai keamanan pangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.
Literatur mengenai tradisi penyajian kuliner Tionghoa dan perkembangan bakmi di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....