Bubur Kacang Hijau: Kelezatan Tradisional yang Kaya Nutrisi dan Sejarah

  • 05 Agt 2026 14:50 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID,Surakarta - Di antara ragam kuliner manis Nusantara, bubur kacang hijau memegang posisi istimewa sebagai hidangan kerakyatan yang dapat dinikmati kapan saja—mulai dari menu sarapan, santapan sore, hingga sajian penghangat di malam hari. Rasanya yang gurih-manis dengan tekstur kacang yang lembut menjadikannya makanan favorit lintas generasi di seluruh pelosok Indonesia.

Sejarah dan Jejak Kuliner

Kacang hijau (Vigna radiata) sendiri bukan tanaman asli Indonesia, melainkan berasal dari wilayah Asia Selatan (India) yang menyebar ke kawasan Asia Tenggara melalui jalur perdagangan sejak ratusan tahun lalu. Adaptasi lokal terhadap bahan ini melahirkan sajian bubur dengan kuah santan dan gula aren khas Nusantara.

Dalam tradisi kuliner Jawa dan Sumatra, bubur kacang hijau kerap disandingkan dengan bubur ketan hitam untuk menciptakan keseimbangan rasa manis, gurih, serta tekstur. Di berbagai daerah, penyajiannya berakulturasi dengan budaya lokal seperti penambahan irisan roti tawar, durian, atau disajikan dingin dengan es serut (es bubur kacang hijau).

Komposisi dan Karakter Rasa

Kelezatan bubur kacang hijau terletak pada kesederhanaan bahan racikannya:

  • Kacang Hijau: Dimasak hingga mekar (empuk) namun tidak terlalu hancur, memberikan tekstur lembut yang khas.
  • Gula Aren / Gula Merah: Memberikan rasa manis legit dengan aroma karamel alami dan warna cokelat keemasan.
  • Santan Kelapa: Dimasak terpisah dengan sedikit garam dan daun pandan untuk menghasilkan rasa gurih kontras yang menyempurnakan rasa manis.
  • Rempah Pelengkap: Penambahan jahe dan daun pandan pada air rebusan memberikan aroma harum menenangkan serta rasa hangat yang lembut di tenggorokan.

Manfaat Kesehatan dan Nutrisi

Bubur kacang hijau bukan sekadar hidangan lezat, tetapi juga superfood berharga terjangkau:

  1. Sumber Protein dan Serat: Kacang hijau kaya akan protein nabati dan serat pangan yang baik untuk pencernaan serta membantu menjaga kenyang lebih lama.
  2. Kaya Antioksidan dan Mineral: Mengandung zat besi, magnesium, asam folat, serta antioksidan seperti vitexin dan isovitexin yang dapat membantu menangkal radikal bebas dan menurunkan risiko penyakit kronis.
  3. Mendukung Kesehatan Kehamilan: Kandungan asam folat yang tinggi menjadikan sajian ini sangat disarankan bagi ibu hamil untuk mendukung perkembangan janin.

Daftar Referensi

  1. Astawan, Made. (2009). Sehat dengan Hidangan Kacang dan Biji-bijian. Jakarta: Penebar Swadaya.
  2. Lombard, Denys. (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  3. Nurdin, F., & Rahmawati, E. (2019). Nilai Gizi dan Potensi Pengembangan Pangan Lokal Berbasis Kacang-Kacangan di Indonesia. Jurnal Teknologi Pangan dan Nutrisi, 18(2), 87–95.
  4. Prabowo, A., & Setyowati, R. (2021). Ragam Minuman dan Kudapan Tradisional Jawa: Fungsi Sosial dan Khasiat Kesehatan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
  5. USDA FoodData Central. (2020). Mung Beans, Mature Seeds, Cooked, Boiled, Without Salt (Nutritional Profile). U.S. Department of Agriculture.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....