Wedang Ronde: Kehangatan Tradisi Tionghoa yang Meresap di Lidah Jawa
- 05 Agt 2026 16:22 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID,Surakarta - Di tengah udara malam yang dingin, mangkuk berasap berisi kuah jahe hangat dan bola-bola ketan warna-warni selalu berhasil menghadirkan kenyamanan. Sajian ini dikenal sebagai wedang ronde, salah satu minuman tradisional paling populer di Pulau Jawa, khususnya di kawasan Yogyakarta, Solo, dan Salatiga. Namun, di balik rasa manis dan pedas hangatnya, wedang ronde menyimpan perjalanan akulturasi budaya yang panjang.
Asal-Usul: Dari Festival Dongzhi ke Angkringan Jawa
Wedang ronde merupakan hasil perpaduan budaya (akulturasi) antara tradisi Tionghoa dan Jawa. Kata wedang berasal dari bahasa Jawa yang berarti minuman hangat berkuah, sedangkan ronde diserap dari bahasa Belanda rond atau ronde yang berarti "bulat", merujuk pada bentuk bola-bola ketan di dalamnya.
Di negeri asalnya, Cina, kuliner ini dikenal dengan nama tangyuan (湯圓). Tangyuan adalah sajian wajib saat merayakan Festival Dongzhi (titik balik matahari musim dingin). Bola-bola ketan yang bulat dan kenyal menyimbolkan kebersamaan, persatuan, dan keutuhan keluarga.
Ketika masyarakat Tionghoa berimigrasi ke Nusantara, resep sajian ini menyesuaikan dengan bahan-bahan lokal. Kuah kaldu manis atau sirup gula khas Tiongkok digantikan oleh rebusan jahe segar dan gula kelapa atau gula pasir, menciptakan profil rasa baru yang lebih kuat dan cocok dengan lidah lokal.
Komposisi Rasa dan Tekstur
Keunikan wedang ronde terletak pada kombinasi tekstur dan sensasi rasa dalam satu mangkuk:
- Bola Ketan (Ronde): Terbuat dari tepung ketan yang dibentuk bulat, acap kali diberi pewarna alami seperti merah dan hijau. Di dalamnya terdapat isian kacang tanah sangrai yang ditumbuk kasar dan dicampur gula, memberikan kejutan rasa gurih-manis saat digigit.
- Kuah Jahe: Dibuat dari rebusan jahe yang dimemarkan, gula aren atau gula pasir, serta daun pandan dan serai untuk aroma wangi yang khas. Rasa pedas hangat jahe langsung membakar tenggorokan secara lembut.
- Bahan Pelengkap: Racikan lokal sering menambahkan potongan roti tawar, kolang-kaling, kacang tanah goreng tanpa kulit, dan kadang irisan emping atau mutiara untuk memperkaya tekstur.
Manfaat Bagi Kesehatan
Selain memanjakan lidah, wedang ronde juga dikenal sebagai minuman herbal yang kaya manfaat:
- Mengahangatkan Tubuh: Kandungan gingerol pada jahe membantu meningkatkan sirkulasi darah dan menjaga suhu tubuh tetap stabil di cuaca dingin.
- Meredakan Masuk Angin dan Batuk: Aroma rempah dan sensasi hangatnya efektif meredakan hidung tersumbat, mual, serta perut kembung.
- Peningkat Energi: Karbohidrat dari tepung ketan dan gula memberikan tambahan energi yang cepat saat tubuh terasa lelah.
Simbol Kebersamaan yang Tak Lengkang oleh Zaman
Meskipun tergolong jajanan pasar klasik, wedang ronde tidak pernah kehilangan penggemarnya. Dari gerobak dorong di pinggir jalan hingga menu kafe modern, wedang ronde tetap dicari. Lebih dari sekadar hidangan penutup, semangkuk wedang ronde adalah simbol bagaimana dua budaya dapat melebur harmonis, menghasilkan warisan kuliner yang terus menghangatkan generasi demi generasi.(Aditya Wardhana)
Daftar Referensi
- Bromokusumo, Arie Parikesit. (2013). Peran Budaya Tionghoa dalam Kuliner Nusantara. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
- Lombard, Denys. (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama & Forum Jakarta-Paris.
- Riyanto, Sugeng. (2018). Akulturasi Budaya Jawa-Tionghoa dalam Dinamika Kuliner Tradisional di Surakarta dan Yogyakarta. Jurnal Kebudayaan dan Seni, Universitas Gadjah Mada, Vol. 14, No. 2.
- Tan, Chee-Beng. (2012). Chinese Food and Foodways in Southeast Asia and Beyond. Singapore: NUS Press.
- Yulianti, R., & Handayani, T. (2020). Etnobotani Bahan Minuman Tradisional Berbasis Jahe dan Rempah di Jawa Tengah. Jurnal Etnobotani Indonesia, 8(1), 45-52.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....