Berawal dari Konten Pocong, 7 Remaja Menyesal dan Sungkem Ortu di Mapolres Sragen
- 29 Mei 2026 21:16 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Sragen - Suasana Aula Mapolres Sragen Jumat 29 Mei 2026 tak seperti hari-hari biasanya. Sekitar pukul 13.40 WIB suasana di dalam Aula Satya Haprabu Polres Sragen mendadak senyap.
Tidak ada deru mesin motor atau tawa khas remaja yang biasanya terdengar di sudut-sudut kota. Yang ada hanyalah helaan napas berat dan ketegangan yang tertahan dari tujuh pasang bahu remaja yang tertunduk lesu.
Beberapa hari lalu, mereka adalah "bintang" di jagat maya. Berbekal kain putih yang diikat menyerupai pocong, mereka nekat melakukan siaran langsung (live) di aplikasi TikTok pada malam buta. Misi mereka sederhana, namun fatal mengejar viewer, berburu gift, dan menciptakan sensasi horor demi popularitas instan.
Namun siang itu, rombongan kain kafan mainan itu telah tanggal. Berganti dengan kemeja rapi dan tatapan mata yang tak berani mendongak. Di hadapan mereka, duduk orang tua yang membesarkan mereka dengan keringat, para guru, petugas UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Sragen, serta aparat kepolisian yang dipimpin langsung oleh Kapolres Sragen, AKBP Dewiana Syamsu Indyasari.
Bagi ketujuh remaja yang rata-rata masih duduk di bangku kelas 2 SMA dan SMK ini, apa yang mereka lakukan mungkin hanya dianggap sebagai candaan seru pengisi malam. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan arus tren media sosial telah membutakan batasan antara kreativitas dan keresahan publik.
Kasat Reskrim Polres Sragen, AKP Catur Yudo Praseno, menyoroti bagaimana pergeseran pola pikir ini terjadi di kalangan generasi muda saat ini. Ada godaan finansial instan yang mengintai di balik layar gawainya.
"Sekarang anak-anak punya mindset mencari uang dari gift TikTok untuk kebutuhan pribadi seperti rokok bahkan miras. Ini harus menjadi perhatian bersama," ucap AKP Catur.
AKP Catur juga menambahkan bahwa sindrom tidak ingin tertinggal tren (FOMO) sering kali menyeret remaja ke dalam perilaku negatif. Mulai dari aksi balap liar hingga pembuatan konten-konten sensasional yang mengabaikan ketertiban umum.
Melihat ketujuh remaja tersebut, Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari tidak bisa menyembunyikan rasa prihatinnya. Alih-alih langsung menjebloskan mereka ke jeruji besi mengingat tindakan mereka sebenarnya berpotensi masuk ke ranah pidana AKBP Dewiana memilih jalan pintas yang menyentuh hati, pendekatan pembinaan demi menyelamatkan masa depan anak-anak tersebut.
"Saya sangat prihatin. Apa gunanya mencari sensasi yang justru merugikan masyarakat? Kalian ini rata-rata masih kelas 2 SMA dan SMK, masih punya masa depan panjang," ujar Kapolres dengan nada suara yang bergetar antara tegas dan mengayomi.
Kapolres juga mengingatkan agar para remaja Sragen tidak sekadar mengekor budaya konten tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan sekitar.
"Jangan ikut-ikutan membuat konten pocong-pocongan seperti di daerah lain yang akhirnya membuat masyarakat resah. Semua orang punya cita-cita, maka belajar yang giat dan tekun," lanjut AKBP Dewiana.

Dalam arahannya, perwira menengah polwan ini juga menyentil fenomena "generasi stroberi" sebutan untuk generasi muda yang tampak indah dan eksotis di luar, namun rapuh dan mudah hancur saat menghadapi tekanan di dalam.
"Besi itu berguna karena ditempa. Begitu juga manusia. Anak-anak harus dibentuk agar menjadi pribadi yang kuat dan berguna," katanya.
Tak lupa, AKBP Dewiana juga mengetuk hati para orang tua yang hadir agar tidak abai terhadap aktivitas digital anak-anak mereka. Pengawasan longgar bisa berakibat fatal jika candaan kelewat batas dianggap sebagai hal lumrah.
"Orang tua harus benar-benar memahami anak-anaknya. Jangan sampai masalah seperti ini dianggap candaan. Bisa fatal. Peran keluarga sangat penting," tegasnya.
Puncak emosi dalam ruang aula itu terjadi menjelang pukul 15.15 WIB. Sebagai bentuk penyesalan terdalam, ketujuh remaja itu diminta untuk bersimpuh, melakukan tradisi sungkeman di kaki orang tua masing-masing.
Ruangan yang semula kaku seketika pecah oleh suara tangis. Di atas pangkuan ibu dan ayah, kekerasan kepala para remaja ini runtuh. Air mata penyesalan tumpah ruah saat jemari para orang tua yang mungkin kasar karena bekerja demi membiayai sekolah mereka mengusap kepala anak-anaknya yang berjanji tidak akan mengulangi perbuatan konyol itu lagi.
Meski pelukan hangat orang tua dan maaf dari masyarakat telah didapatkan, hukum pembinaan tetap berjalan. Hari itu, jemari mereka yang biasa mengetuk layar smartphone harus ditempelkan pada tinta hitam untuk pendataan dan pengambilan sidik jari.
Selama beberapa waktu ke depan, mereka diwajibkan melakukan wajib lapor dua kali seminggu ke Satreskrim Polres Sragen serta menjalani pembinaan intensif dari Sat Binmas.
Pertemuan siang itu ditutup dengan aman dan tertib, meninggalkan sebuah pelajaran berharga yang membekas dalam. Layar gawai boleh menyajikan panggung popularitas semu, namun pelukan orang tua dan masa depan yang nyata adalah hal yang tak boleh digadaikan demi sebuah kata "viral".
"Saya masih peduli terhadap masa depan kalian. Jangan ulangi lagi. Gunakan masa muda untuk hal-hal positif dan membanggakan orang tua," tutur AKBP Dewiana Syamsu Indyasari sore itu, melepas ketujuh remaja kembali ke pelukan hangat keluarga mereka. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....