Upaya Pencegahan Hiv/Aids di Kota Surakarta menuju Solo Stop Aids 2030
- 04 Okt 2026 13:45 WIB
- Surakarta
Poin Utama
- Kasus baru HIV/AIDS di Kota Surakarta terus mengalami peningkatan
- Peran Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)
- Dua Pilar Penggerak Utama Penanganan
- Pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA)
- Tinggi stigma di masyarakat akibat kurangnya pemahaman
RRI.CO.ID, Surakarta - Kondisi penyebaran HIV dan AIDS di Kota Surakarta saat ini dinilai sudah sangat memprihatinkan. Hal ini dikarenakan hampir di setiap bulan selalu terdapat peningkatan adanya temuan kasus baru di wilayah tersebut.
Menyikapi situasi tersebut, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) hadir secara khusus untuk melakukan upaya pencegahan HIV/AIDS di tengah masyarakat. Disadari bahwa upaya pencegahan dan penanganan HIV/AIDS ini tidak bisa dilaksanakan hanya oleh satu instansi saja, melainkan semua pihak harus bergandeng untuk saling bahu-membahu agar seluruh prosesnya bisa berjalan dengan lancar.
Dalam perjalanannya, fungsi KPA di Surakarta untuk membangun dan memperkuat koordinasi lintas sektoral. Selain itu, lembaga ini juga bertugas untuk menggerakkan sumber daya manusia (SDM) yang ada di Kota Surakarta agar turut serta dalam upaya penanggulangan wabah ini.
KPA juga memiliki tanggung jawab penuh untuk memfasilitasi pelaksanaan program-program penanganan. Saat ini, program yang telah ada dan berjalan di Kota Surakarta sudah terbilang banyak.
Prawoto Mujiyono mengatakan, untuk mendukung kelancaran program tersebut, pelaksanaannya ditopang oleh beberapa pilar utama. Pilar-pilar penggerak tersebut mencakup pilar pencegahan dan penanggulangan, pilar kesehatan, serta pilar masyarakat yang juga melibatkan peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
“Di Surakarta kita kelompokkan dua pilar, pilar yang pertama adalah pilar pencegahan dan penanggulangan yang ada di kami (KPA). Kemudian ada pilar kesehatan yang ada di dinas kesehatan, ada juga pilar masyarakat atau LSM ini adalah mereka akan menjangkau pada titik-titik tertentu populasi di Kota Surakarta”. Ujar Prawoto, Kamis 1 Oktober 2026.
Sebagai bentuk keseriusan penanganan secara menyeluruh, kini semua kelurahan di Kota Surakarta sudah dibentuk Warga Peduli AIDS (WPA). WPA ini merupakan perpanjangan tangan dari KPA yang bertugas untuk bisa menyampaikan informasi dan edukasi kepada masyarakat hingga menjangkau ke kalangan yang paling bawah.
Sebagai perpanjangan tangan KPA di tingkat akar rumput, seluruh kelurahan kini telah membentuk Warga Peduli AIDS (WPA) yang bertugas memberikan edukasi sekaligus mengikis stigma negatif di masyarakat. Terkait tantangan stigma di lapangan.
Nana selaku pendamping WPA Banjarsari menjelaskan, bahwa pada awalnya stigma terhadap penderita HIV memang masih sangat tinggi di masyarakat. Pihaknya pernah menangani kasus seorang ibu hamil positif HIV tanpa pengobatan, di mana setelah melahirkan, tetangganya bahkan tidak berani mengangkat jemurannya yang jatuh karena begitu takut terhadap orang positif HIV. Oleh karena itu, Warga Peduli AIDS terus memberikan penyuluhan secara berulang kali, tidak hanya satu kali.
“Kami pernah menangani suatu kasus dimana ditemukan saat hamil, jadi ibu hamil positif HIV tanpa pengobatan, selepas dia melahirkan tetangga disebelahnya tidak mau mengangkat jemurannya padahal jemuran itu jatuh, jadi setakut itu mereka dengan orang yang positif HIV”. Kata Nana.
Stigma tersebut muncul di masyarakat hanya dalam jangka waktu satu sampai dua minggu dan setelah itu tidak ada lagi. Masyarakat akan lebih paham jika diadakan penyuluhan dan edukasi tentang HIV dan AIDS secara berulang. (Wiwik/Muh. Fahmi – UIN RMS Surakarta)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....